Langit biru cerah dihiasi dengan gumpalan awan putih bersih menjadi latar yang apik untuk selalu dipandangi. Ditambah lagi dengan birunya air laut yang luas menjadi sebuah lanskap sempurna untuk selalu dinikmati. Ini lah Gili Nanggu yang mempesona. Sebuah gugusan pulau di bagian barat Pulau Lombok.
Terletak di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, NTB Gili Nanggu menjelma bagai hiasan yang tak pernah berhenti memantulkan keindahannya. Bagaikan magnet, keindahan dan keelokannya mampu mengundang wisatawan untuk merasakan pesona alam yang ditawarkan. Beruntunglah Saya bisa merasakan kelembutan pasir di pantai Gili Nanggu. Sambil diselimuti hangatnya sinar mentari, Saya begitu gembira bisa merasakan pemandangan alam yang abadi khas nusantara melalui Gili Nanggu, sebuah pulau yang bertetangga dengan Gili Sudak dan Gili Kedis.
Perjalanan dimulai dari kota Mataram, dengan menggunakan mobil sewaan yang didapat dari seorang teman bernama Amet. Seorang pendaki yang tinggal di Praya, salah satu kota di Lombok. Ia sangat menyayangi Gunung Rinjani. Salah satu gunung tertinggi di Indonesia dan tertinggi di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Buka pintu mobil, duduk manis, jalan menuju Gili Nanggu
Di perjalanan Saya berhenti untuk membeli beberapa perlengkapan yang dikiranya perlu untuk menunjang perjalanan gue nanti. Sebuah toko makanan menjadi pilihan, perbekalan berupa minuman dan makanan menjadi barang yang diutamakan. Wajar saja, karena faktor tidak adanya warung di Gili Nanggu menyebabkan Saya tidak mau mengambil resiko dengan suara berisik perut yang kosong. Alhasil, pasokan diisi secukupnya. Merasa yang diperlukan cukup, Saya kembali melanjutkan perjalanan dengan hati yang sangat senang.
Sebelum sampai di Gili Nanggu mobil erhenti di tepi jalan daerah Sekotong, bingung,Saya bertanya kepada mas Amet. Ternyata dirinya bermaksud menggunakan jasa neyalan dan perahunya untuk menyebrangkan Saya ke Gili Nanggu. Sebenarnya ada Pelabuhan Tawun yang biasa digunakan untuk menyebrangkan para wisatawan menuju Gili Nanggu, namun karena mas Amet mempunyai kenalan seorang nelayan dan jarak rumahnya yang ditepi pantai lebih dekat dengan Gili Nanggu, maka kami pun berangkat dengan perahu nelayan kenalan mas Amet.
Dorong perahu, naik perahu, berlayar.....
Lembutnya sinar matahari dan ombak yang tenang menemani perjalanan siang itu. Dengan perlahan, perahu yang dikemudikan sang nelayan bagai sebuah kapal yach yang mewah. Terasa nyaman dan tentram itu lah yang Saya rasa. Angin begitu sangat nikmat bersentuhan dengan kulit. Entah lah, Saya merasa sangat nyaman pada saat itu.
Kapal bersandar, loncat dan....Aahhhh Gili Nanggu....
Soal keindahan, Gili Nanggu memiliki pesona atas dan alam bawah laut yang sangat indah. Pantai dengan hamparan pasir putih bersih menjadi sebuah permadani yang lembut untuk dirasakan. Begitu juga dengan alam bawah lautnya. Hanya bersonkeling di tepi pantai, Saya di suguhi pemandangan ikan-ikan yang lucu dan ramah. Jangan lupa bawa roti untuk memberi makan ikan akan yang menjadi teman setia saat bersonkeling.
Namun jangan kaget dengan ikan yang memiliki mulut seperti jarum suntik, Saya yang pertama kali melihat ikan seperti itu agak takut untuk berdekatan, namun mereka seakan mengajak bermain dan bercengkrama. Apa lagi ikan yang bibirnya merona seperti memakai lipstik, sungguh lucu. sangat menggemaskan.
Ada yang unik saat mengunjungi Gili Nanggu, terdapat katapel raksasa di tepi pantainya. Ini bagaikan maskot di Gili Nanggu.
Gili Nanggu sebuah pulau yang mempesona, pemandangan yang engkau berikan serta pesona alam yang kau tawarkan akan membuat mu selalu dikenang. Dan akan menjadi sebuah cerita yang melekat di pikiran untuk waktu yang lama. Kau sebuah pulau permata di Pulau Lombok. #Rekomendasi
Pulau Moyo adalah sebuah pulau yang Saya kunjungi saat bulan Oktober 2012, untuk tepatnya Saya tidak inget tanggal berapa saat mengunjungi pulau yang terbesar di wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini.
Mungkin bagi sebagian orang khususnya para pejalan Pulau Moyo tidak asing bagi telinga mereka, maklum aja pulau ini dulunya pernah dikunjungi sama mendiang putri Inggris Lady Diana. Karena itu lah nama Pulau Moyo menjadi semakin terkenal. Pulau ini menjadi bagian dari cagar alam yang dilindungi, hampir semua kawasannya masih berupa hutan lebat yang masih sangat sulit untuk dijelajahi sekaliber orang profesional pun, apalagi gue yang hanya pejalan kelas amatiran, yang hanya melakukan perjalanan karena kesenangan akan hal baru, menemui budaya baru, masyarakat yang baru, adat istiadat yang baru dan baru-baru lainnya.
Saat berangkat kesana Saya memulai perjalanan dari hotel Tambora di kota Sumbawa Besar. Kota kecil yang masih tertinggal. Dimana mereka memiliki semboyan "Sabalong Samalewa" yang artinya membangun harus dengan seimbang dan diikuti dengan pembangunan secara fisik dan spiritual (dunia dan akhirat) yang seimbang pula.
Malam hari sekitar pukul 8 malam waktu Indonesia bagian tengah Saya keluar dari kamar hotel untuk membeli obat flu yang Saya rasa bisa mengobati penyakit demam yang Saya terima. Perubahan cuaca saat berkunjung ke desa Lawin yang dingin dan tiba-tiba balik lagi ke kota Sumbawa Besar yang sangat amat panas, membuat kondisi badan gue menurun.
Buka pintu kamar hotel lalu jalan mengarah keluar
Sampai di halaman depan hotel tak sengaja Saya bertemu dengan orang dinas pariwisata Sumbawa yang memang sebelumnya pernah bertemu di kantor dinas pariwisata Sumbawa. bapak berkumis tebal dengan tampang lumayan sangar menegor gue dengan suaranya yang besar. Saya lupa namanya siapa yang pasti orangnya sangat baik, mau mebantu dalam urusan promosi bidang wisata Sumbawa dan sekitarnya. Ini berguna sekali untuk kerjaan yang lagi Saya jalani. Ngobrol sana-sini akhirnya gue bisa ikut rombongan dinas untuk berkunjung ke Pulau Moyo esok harinya.
Selesain obrolan, beli obat, balik kamar, tidur
Mas bangun, gue denger seorang remaja kecil berumur sekitar 16 tahun memanggil-manggil untuk membangunkan Saya yang tertidur lelap di dalam kamar. Sebelumnya Saya memang sudah berpesan dengan bocah yang mempunyai lubang hidung besar ini untuk dibangunkan pada jam 3 pagi WITA. Saya pun terbangun lalu membuka gorden dan menyatakan kalau Saya udah bangun. Segera bocah itu pergi, sedangkan gue balik lagi tidur sampai ketika ada seoerang pria dengan kulit agak gelap membangunkan Saya dengan suaranya yang mungil kecil. Segera lah gue bangun dan mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawa ke Pulau Moyo.
Sampai di lobi hotel ternyata orang yang membangunkan Saya tadi adalah orang suruhan dinas yang datang untuk menjemput Saya jalan menuju ke pelabuhan. Badannya tinggi kurus tapi suaranya melengking kecil gitu, Saya yang ngobrol sama dia mencoba menahan ketawa aja, gak enak takutnya akan menyinggung perasaannya.
Keluar dari hotel, jalan menuju pelabuhan Badas
Saat menuju pelabuhan kendaraan yang gue tumpangi berupa motor dengan gerobak dibelakangnya alhasil, Saya duduk manis menikmati subuh kota Sumbawa Besar dengan kendaraan yang biasa digunakan untuk mengangkut aneka ragam barang pasar tradisional ini. Tapi gak apa, ada cerita yang membuatnya jadi perbedaan.
Sampai di pelabuhan, naik kapal, berangkat ke Pulau Moyo
Kapal yang mengangkut gue juga bersandar dahulu di tepi pantai (yang namanya Saya lupa) untuk jemput rombongan sepeda yang punya tujuan sama yaitu menuju pulau Moyo. Selama 3 jam perjalanan Saya mengarungi samudra lautan lepas yang biru.
Skip ceritanya langsung ke Desa Labuan Aji
Menuju air terjun Mata Jitu pasti akan singgah dulu ke desa Labuan Aji, salah satu dari 2 desa yang ada di Pulau Moyo. Dari desa Saya menggunakan ojek untuk mencapai air terjun yang sering juga disebut queen waterfall oleh penduduk setempat
Motor di gas, berangkat
Hanya membutuhkan 10 menit untuk bisa merasakan segarnya air terjun Mata Jitu. Pemandangan yang hijau, batu-batu stalaktit yang indah menghiasi air terjun yang dinamakan mata jitu karena jatuhnya air tepat langsung mengenai kolam yang ada di bawahnya.
Buka baju langsung berenang
Segarnya air membuat cuaca panas Pulau Moyo menjadi sangat tak berarti. Kesana kemari Saya keliling untuk menikmati pemandangan yang ditawarkan air terun. tanpa sengaja Saya melihat batu yang bentuknya mirip sekali dengan alat kelamin pria. Saya sunyum-senyum kecil melihat batu yang umurnya mungkin sudah ratusan tahun tersebut benar-benar sangat mirip.
Foto-foto air terjun, lalu balik lagi ke desa Labuan Aji
Air terjun Mata Jitu itu indah, mungkin salah satu yag terindah di Indonesia. Bebatuan stalaktit yang menghiasi air terjun membuat air terjun pantas untuk dikunjungi. Ini lah air terjun Mata Jitu namamu akan selalu diingat bagi siapa saja yang pernah mengunjunginya, karena pesona mu takkan mudah untuk dilupakan. #Rekomendasi
Memulai perjalanan menuju Pantai Mawun dari Pantai Kuta Lombok, Saya bergerak dengan motor sewaan menuju pantai yang mampu menghipnotis para wisatawan untuk berkunjung, bahkan para bule juga ikut naksir Pantai Mawun, karena kecantikannya memang ya cantik, gak ada kata-kata selain cantik saat tiba di Pantai Mawun. Pasirnya putih udah kayak bedak kosmetik mahal, halus banget, beda sama bedak pasar tradisonal masih ada kasarnya. Air lautnya hijau di tepian dan biru dibagian tengah, bagaimana tidak cantik. Sebelum ke Pantai Mawun Saya mendapatkan saran dari penjaga homestay tempat Saya menginap untuk hati-hati dan sopan saat bertanya, penjaganya memang bermaksud untuk memperingat kan Saya akan kondisi Lombok saat itu. Kala itu isu tentang penculikan anak dan adanya kesalahan komunikasi yang berujung pemukulan sampai korbannya meninggal, mengakibatkan para tersangka pemukulan harus mendekam di kantor polisi setempat (ini cerita pada saat Saya kesana). Saya mengiyakan sambil menganggukkan kepala tanda mengerti dan memulai perjalanan mengarahkan tujuan ke Pantai Mawun.
Nyalakan motor, tarik gas, berangkat ke Pantai Mawun
Selama perjalanan Saya disuguhi pemandangan bukit yang indah-indah. Warna hijaunya membuat mata menjadi segar untuk selalu memandang. Jalan yang naik turun, belok-belok menjadi tatntangan tersendiri untuk mengendarai motor. Waspada menjadi teman setia, harus hati-hati. Kadang ada jalan yang belum diaspal. Kerikil dan bebatuan bisa membuat Saya terjatuh dari motor. Ada yang unik saat menuju ke Pantai Mawun. Tenda bewarna biru dan kuning menyala kadang terlihat di pinggir jalan.Dengan mesin dan kolam-kolam yang sudah tertata tidak beraturan, Saya melihat para pekerja tambang emas yang rela hidupnya diperuntukkan untuk logam mulia tersebut. Jumlah logam mulia tersebut mungkin bisa merubah nasib mereka yang kesulitan. Pekerjaan ini tidak mudah, tergantung usaha dan nasib untuk mendapatkan batu yang mengandung emas ini. bisa satu hari, bulan bahkan tahunan. Lagi-lagi tergantung nasib. Doa mungkin sudah jadi rutinitas yang dilakukan para pekerja tambang tersebut. Mungkin karena ini lah sebagian jalan menuju Pantai Mawun rusak. Truk-truk yang membawa pasir menjadi beban yang tidak bisa diterima oleh aspal dan mengakibatkan jalan jadi berlubang. Tapi mau bagaimana lagi, jika ini di tutup para pekerja tidak mempunyai penghasilan. Ada yang pro ada yang kontra itu hal biasa. tergantung menyikapi dan saling mengerti keadaan masing-masing mungkin bisa dibiarkannya penggalian emas ini.
Menuju Pantai Mawun Saya juga melihat pemandangan sawah yang terbentang indah, bunga-bunga yang bermekaran menghasilkan warna yang enak untuk memanjakan mata. Kadang ada rombongan kerbau yang dengan seenaknya saja melintasi jalan tanpa harus lihat ke kanan-kiri. Ini membuat perjalanan Saya ke Pantai Mawun harus lebih berhati-hati. Jika tidak bisa-bisa Saya bisa menjadi korban karena menabrak kerbau-kerbau yang badannya luar biasa berotot.
Informasi untuk menuju Pantai Mawun terbilang sangat sedikit, hanya ada papan-papan kecil yang menjelaskan kemana harus menuju Pantai Mawun. Letaknya juga tidak di pinggir jalan. Harus lebih masuk lebih kedalam lagi sebelum bisa menikmati Pantai Mawun yang mempesona. Dari Jalan Utama Saya belok ke kiri setelah ada papan yang memberikan informasi untuk menuju Pantai Mawun.
Parkir Motor, Turun, Siap menikmati Pantai Mawun
Pasirnya lembut banget, pemandangannya luar biasa indah kata-kata itu yang terucap saat Saya baru tiba di Pantai Mawun Sumpah ini indah. ada tebing perbukitan di tengah laut, itu seakan menjadi gerbang yang menjadi pembatas di Pantai Mawun. Airnya punya gradasi biru tua dan muda yang keren banget. Sampe-sampe Saya terhipnotis untuk merasakan segarnya air di Pantai Mawun. Bermain bersama gelombang air yang relatif aman menjadikan Pantai Mawun arena bermain yang sangat luas buat Saya.
Pantai Mawun, seolah kecantikanmu bagai bidadari yang tercipta dengan berbentuk pantai. Keindahan mu tak tergoyahkan dengan tempat mu yang tersembunyi. Engkau akan selalu di kunjungi, di datangi dan dinikmati. Karena kecantikan mu memang pantas untuk dinikmati. #Rekomendasi
![]() |
| Anak kecil aja tau Pantai Mawun Indah |
![]() |
| Saya sempat iri melihat kemesraan mereka berdua |
![]() |
| Garis Pantai Mawun melekuk dan dirimbuni pasir purih yang lembut |
![]() |
| Ada aja orang yang selalu mengubur dirinya di tiap pantai termasuk Pantai Mawun |
![]() |
| Airnya hijua berpadu dengan biru |
![]() |
| Sisi tepi Pantai Mawun dibatasi dengan perbukitan |
Tulisan ini sengaja tidak Saya edit dan hapus. Ini untuk mengingatkan Saya pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Dan Saya tidak pernah menyesal akan hal itu. Tapi jangan dicontoh
Santai bisa, pesta bisa, santai sambil pesta juga bisa. Lakuin apa aja yang lo suka, bebas aja lah, terserah, yang penting gak ngerugiin orang lain. Bebas tapi punya aturan.
Lo bisa dapetin itu di Gili Trawangan. Sebuah pulau di Lombok bagian Utara. Masuk kesana berarti menjadi wisatawan mancanegara di negara sendiri. Isinya kebanyakan bule, bener-bener tidak seperti di Indonesia. Baru kali ini gue gak ditawarin barang oleh-oleh, biasanya kalo dateng ke daerah lain, pasti ada aja suara, mas beli bajunya mas, dek beli kalungnya ya satu aja...., mas beli gelangnya mas, bagus buat oleh-oleh, mas beli kainnya...saya belum makan mas. Kalo denger yang satu ini, mending kasih aja uang ribuan dari pada dia nempel terus selama menikmati area wisata (sedekah itu penting). Tapi beda sama Trawangan, dari awal gue dateng sampe ninggalin itu pulau, gak terdengar suara mendayu-dayu para pedagang oleh-oleh. Ini Luar biasa.
Perjalanan menuju Trawangan gue tempuh dari Mataram ibu kota Lombok. Dengan naik taksi gue jalan menuju pelabuhan Bangsal, tempat dimana perahu yang akan mengantar gue ke Gili Trawangan. Biayanya sampe 100 ribu lebih (lumayan juga ya). Soalnya kalo naik angkutan umum bemo, angkutan masal warga lombok udah langka. Nyari nya susah banget. Alhasil gue naik taksi aja, duduk manis menikmati pemandangan jalan menuju pelabuhan.
Sampai pelabuhan gue pikir beneran di turunin di pelabuhannya, enggak taunya gue harus menggunakan cidomo, yaitu alat transportasi orang Lombok dengan kuda sebagai tenaganya, ditambah gerobak yang dijadikan tempat untuk para penumpang. Lanjut lah perjalanan gue menggunakan cidomo. Ini bagus buat membagi-bagi pemasukan, perekonomian berjalan baik, saling membagi-bagi rejeki itu bagus.
Akhirnya nyampe di pelabuhan bangsal, beli tiket dan nyebrang menuju Gili Trawangan
Perahu yang digunakan semacam angkutan untuk umum, jadi gue berangkat bersama-sama warga Lombok yang ingin ke Trawangan. Gak cuma Trawangan aja yang bisa dituju dari Pelabuhan Bangsal. Ada Gili Meno dan Gili air yang bisa dituju juga.Tapi Gili Trawangan adalah pulau yang terbesar dan paling ramai. Orang Lombok memang biasa menyebut pulau-pulau kecil dengan sebutan gili jadi jangan heran dengan semua pulau-pulau yang ada di wilayah Lombok di depannya selalu disebut gili.
Selama 45 menit hantaman ombak buat perahu yang gue naikin miring banget. Penumpang yang di depan aja sampai basah karena cipratan air yang mengenai perahu. Mungkin ini saatnya ini gue bilang, "Kapal miring kapten!!!".
Jangkar dilempar, perahu bersandar dan akhirnya gue tiba di Gili Trawangan. Whooohooo.......
Kaki gue tiba di Gili Trawangan, pesta santai siap untuk gue nikmati. Gue jalan menuju penginapan sambil menikmati suasana jalan di Trawangan. Bar, cafe, restoran, ATM, warung, market , hotel , motel , homestay semuanya tersedia di Trawangan. Gak usah bingung bakal kesusahan disini selama uang yang di rencanain itu tersedia. Kalo gak ada uang mending nabung aja dulu, dari pada kesini gak ngerasain suasana ala Gili Trawangan. Gili trawangan punya daya tarik untuk pesta dan keindahan alam baharinya.
Cidomo dengan klakson nya mondar-mandir di sepanjang jalan utama Gili Trawangan, maklum aja disini gak ada kendaraan motor sama polisi. Moto mereka aja "Gak Ada Polusi Gak Ada Polisi". Asik banget ini Pulau. Selain Cidomo banyak sepeda yang menjadi alat transportasi atau bisa milih jalan aja. Bebas mau pilih yang mana. Kalo gue milih jalan aja, soalnya seru bisa nikmati suasana lebih dekat Trawangan. Penginapan yang gue tempati juga gak terlalu jauh, paling cuma butuh 5 menit jalan kaki untuk menuju pantai.
Makanan disini banyak pilihannya, mau yang mahal alat barat ada, mau yang murah meriah masakan Indonesia ada, makanan Indonesia tapi mahal juga ada. Beragam lah pokoknya. Selesai makan gue langsung menuju pantai, yang gue heran ada masjid, memang masyarakat Lombok mayoritas muslim tapi dengan keadaan Gili Trawangan yang penuh pesta budaya barat, ini sesuatu yang luar biasa. Bayangin aja ada masjid yang aktif dalam menyuarakan panggilan sholat ada Bar yang menyuguhkan pesta dan minuman berakhohol ditempat yang sama. Ini Gili Trawangan, salut.
Pantai di Gili trawangan keren, pasirnya putih, pemandangan langsung menghadap ke Gili Meno yang ada di depannya. Indah banget buat diliat.
Bersonkeling ria menjadi salah satu kegiatan yang ada di pantai Trawangan. Gue juga melakukan itu, tapi sebelumnya bakar ganja sama makan dumolid dulu biar snorkelingnya santai. Bakar ganja di pinggir pantai dengan sebotol bir itu adalah....Nikmat. Ini baru hidup. Get High, Good View, Good Life.
Sewa alat snorkeling udah banyak banget di Trawangan mungkin udah kayak penjual pulsa di Jakarta. Menjamur dimana-mana. banyak banget, jadi gak usah bingung sama yang gak punya alat snorkel.
Melihat pemandangan alam bawah laut dipinggir pantai Trawangan keren. Pantainya sih gak landai, langsung curam turun kebawah. tapi bukan berarti pantai ini gak memilki keisitimewaan. Banyak ikan-ikan kecil yang menemani gue saat bersnokeling ria. Kadang ada juga karang-karang yang masih terjaga dengan baik. tapi yang lebih keren gue bisa liat bangkai sepeda motor di sini. Ini keren. Gak kebayang punya ide naruh motor disini hanya cuma untuk dijadiin pemandangan untuk bersnokeling. Warna motor yang sudah kecoklatan berkarat bukannya menjadi jelek malah menjadi indah buat diliat. Perpaduan coklat dan birunya air laut sangat indah buat disaksikan.
Malam minggu pun tiba
Gue sengaja jalan ke Gili trawangan pada saat akhir pekan, soalnya mau ngerasain gimana rasanya ngabisin waktu disana. Tiap-tiap daerah pasti punya caranya tersendiri dalam menghabiskan akhir pekan. yang jelas kalo di Trawangan pesta adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu.
Makan malam di Art Market merupakan tempat yang paling ramai saat di Trawangan. Penjual ikan-ikan segar dan menu lainnya dapat dicicipi di sini. Mau martabak manis juga ada. Asik lah tempatnya. Aneka ragam kuliner banyak ditemuin disini selain sepanjang jalan utama Gili Trawangan. Mau restoran mewah, cafe dengan konsep musik bisa didapetin disini. Semuanya menggugah selera, hati-hati sama lapar mata, khilaf bisa-bisa terdampar di Gili Trawangan. Menunya menggugah selera semua.
Sama-sama bar merupakan tempat yang mengkhuskan musik reggea sebagai andalannya. Ornamen khas Jamaika mendomasi bar yang mempunyai live music untuk memanjakan para wisatawan. Band lokal dengan lagu reggea membuat para tamu yang datang berkunjung menjadi berdansa. Alunan musik yang harmonis di tepi pantai membuat Sama-sama bar menjadi riuh. Sorak-sorak suara pengunjung yang menikmati suasana Bar terbuai dalam lantai dansa. Mereka berdansa dengan bebas. Termasuk gue yang berdansa, menari di lingkaran lantai dansa. Orang-orang yang gak gue kenal terasa menjadi dekat, bernyanyi bersama sambil berdansa membuat perbedaan jauh tertinggal dibelakang. Sambil bakar ganja gue berdansa mengikuti alunan musik yang dimainakan. Namun ada insiden gue harus keluar, karena petugas di sana menyuruh gue untuk bakar ganjanya di luar aja. Gue sih terima-terima aja, mereka juga ngasih taunya baik-baik kok. Jadi gak seperti di perlakukan seperti penjahat. Bahkan ada kejadian seorang cewek yang nanya soal ganja ke gue "barangnya asli" dia bilang, langsung gue jawab, "asli mbak", "ada lagi gak" sambutnya "gak ada mbak, saya bawa dari Jakarta cuma buat stock saya sendiri", si cewek lalu pergi dengan senyuman, sambil terus melihat ganja yang gue pegang. Bir, Dumolid, Ganja dan Pesta musik reggea adalah sesuatu yang pas untuk dikombinasikan. Sempurna.
Balik ke penginapan gue ketiduran di Hammock, kebetulan penginapan yang gue tempati memilki hammock di teras kamar jadi sebelum masuk kamar gue tidur-tiduran dulu sebelum masuk ke kamar, bukannya santai-santai gue malah ketiduran disitu sebelum adzan subuh membangunkan gue. Bangun langsung masuk kamar, Tidur.....
Besok harinya gue melakukan trip buat snorkeling. rutenya Spot-spot yang ada di Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Biayanya juga pas kok 120 ribu udah termasuk biaya alat senorkeling dan makan di Gili Meno. Ini asik banget. Berputar-putar lah gue mengelilingi spot snorkeling yang tersedia. Bawa roti yang banyak buat ngasih makan ikan. Memang sih pemandu udah siapin roti, tapi itu juga dibagi-bagi buat wisatawan yang lainnya.
Selesai bersnokeling ria di tiga Gili, gue istirahat dulu di penginapan, cape juga seharian main air terus. Berenang kesana kemari buat badan jadi lelah untuk sesaat, tapi biar pun cape, nanti malam lanjut lagi pestanya sebelum esok hari harus meninggalkan gili Trawangan.
Tidur, Bangun, Makan, Pesta
Selesai makan malam, gue jalan-jalan sepanjang jalan utama Gili Trawangan. Gue jelajahi aja, masuk cafe satu keluar cafe satu lagi, masuk ke yang lain, lalu keluar lagi. Muter lah pokonya. Main ke Pantai bakar ganja lalu lanjut jalan lagi. Ada cafe yang unik disini, bisa nonton DVD di tepi pantai, bayar 30 ribu dapet makanan ringan udah bisa nikmati film yang diputar, asik banget
Akhirnya pesta di Blue marlin dimulai. Musik Progresif dan electro yang dimainkan DJ bergema diseluruh ruangan Cafe. Hingar bingar suara pengunjung yang memadati Blue Marlin mulai terasa. Dansa sambil menikmati musik menjadi hal yang mudah untuk dilihat. Keriuhan dan wajah-wajah ceria terpancar di setiap pengunjung cafe.
Bosen dengan suasana ramai gue cabut dari Blue Marlin. Niatnya gue mau bakar ganja, makan dumolid, ngebir lalu nikmati suasana malam di tepian pantai. langkah kan kaki menuju pantai tapi sebelumnya ada penjual yang menawarkan magig mushroom ke gue. gue tolak aja, soalnya jamurnya kecil-kecil banget, gue yakin pasti gak berasa. kalah gede sama jamur dari Batu Karas, Jawa Barat. Kalo udah pernah ngerasain yang lebih enak dan lebih besar, melihat yang kecil jadinya ngeremehin, itu pemikiran gue saat itu. Gak berhenti sampai disitu saja, penjualnya nawarin gue ganja, lagi-lagi gue tolak, sampe dia nawarin sabu, lalu gue bilang "sabu gak cocok buat dipake di pantai", dia nawarin kokain dan putaw gue tolak juga. "Gak make kayak gituan gue bang" sambil gue jalan pergi. baru beberapa langkah gue balik lagi ke penjual, langsung gue bilang "Gue punya ganja lo mau gak?" orangnya langsung ngajak gue ke tepi pantai gue ikut aja.
Di tepi pantai dia cerita soal peredaran narkoba di Gili Trawangan. "Disini apa aja ada, mau apa? nanti saya carikan" ceritanya begitu semangat menawarkan dagangannya". Gue sih iya in aja biar asik(maklum efek bir sama dumolid). Penjualnya nyuruh gue bawa ganja dari Jakarta, "Bawa aja mas kesini nanti saya yang jualin" gue jawab aja, "males mas gue kalo ngirim cuma sama orang yang gue kenal aja, gue ngirim ke Malang sama gorontalo, itu juga sama orang yang udah gue kenal". "Ya udah nanti kalo ke sini bawa aja 10-20 Kg cari saya,nanti saya yang jualin, untung besar" sambung si omen (bukan nama sebenarnya). "buset, banyak amat, itu sih emang udah mau jadi penjual profesional mas, kalo gue buat iseng-iseng menguntungkan aja, ga sebanyak gitu juga" sambut gue. Gue nanya soal harga jamur yang dia bawa. Biasanya jamur udah dipaketin dengan 10 batang jamur dengan harga 100 ribu untuk orang lokal dan 200 ribu untuk wisman. Kalo ganja biasanya 100 ribuan tapi campuran rokoknya banyak banget. Gue dapet info ini dari temen gue yang sebelumnya pernah berkunjung ke gili Trawangan.
Ngoceh sana-sini sambil bakar ganja, gue bilang sama si Omen supaya dia mau barter jamur yang dia jual sama ganja yang dari tadi dia isep. Eh ternyata dia mau. Emang rejeki gue. Ini saatnya bersyukur sama tuhan. Selalu ingat sama yang namanya tuhan, baik lo lagi sedih atau lagi senang. Jangan lagi jatoh atau sedih aja baru inget, pas seneng-seneng gak pernah inget sama sekali. Gak adil itu namanya.
Ganja kulitas terbaik adalah ganja dengan inisial JKT, itu langsung dari mulut Omen yang bilang. Gue juga bingung dengernya, gimana kalo dia ngerasain ganja dari Sumatra apalagi Aceh. Pasti seneng banget dia, bisa-bisa Omen ngadain syukuran.
Baks abis, gue ijin sama Omen buat lanjutin perjalanan malam gue di Trawangan. Berjalan menyusuri jalan utama Gili Trawanagan, gue mengakhiri perjalanan di tepi pantai. Duduk sambil minum bir memandangi bintang yang bentuknya sudah mulai berubah, membuat senyum kecil di bibir gue. Efek jamur sudah mulai terkontaminasi dengan tubuh serta otak gue. Gabungan dumolid, ganja, jamur dan bir berkolaborasi menjadi satu menghasilkan sesuatu yang enak untuk di nikmati di tepian pantai. Hembusan angin yang sejuk, buat badan gue merasa sangat nyaman. panorama bintang dengan warnanya yang berubah mulai dari biru, merah, ungu, hjau membuat bintang seakan seperti balon di perayaan ulang tahun anak-anak. Penuh dengan warna-warni. Keren banget. Tangan gue aja sampai menggapai-gapai langit untuk bisa mendapatkan bintang yang jauh itu.
Puas memanjakan mata dengan keindahan bintang, gue balik ke penginapan. Ini saatnya untuk istirahat sebelum besok harus meninggalkan Gili Trawangan.
Bangun tidur, siap-siap, makan, jalan ke pelabuhan
Perjalanan gue menikmati kegembiraan serta menikmati suasana pantai di Gili Trawangan usai saat perahu yang membawa gue kembali ke Pulau Lombok.
Gili Trawangan menjadi cerita yang indah serta keren untuk selalu diingat. Sebuah Pulau yang mempunyai caranya tersendiri dalam membius wisatawan untuk selalu datang, datang, dan datang lagi.
Kebebasan Tanpa Batas di Gili Trawangan. #Rekomendasi

















