![]() |
| Keluarga kecil menggunakan balon untuk mempercantik foto mereka saat dipotret |
Langkah Saya keluar. Ini yang membedakan. Jika dulu terdapat petugas yang berdiri mengecek tiket dengan cara melubangi. Kini, teknologi telah mengambil alih. Hanya perlu menempelkan tiket berupa kartu, pintu akan terbuka otomatis. Hal ini juga yang membuat Agil antusias merasakan sensasi pintu elektonik.
![]() | |
| Dulu petugas yang mengurusi pintu masuk kini teknologi telah mengambil alih peran tersebut |
Saya keluar ke pintu sebelah kiri namun harus balik ke arah berlawanan. Ternyata Kawasan Kota Tua yang ingin Saya kunjungi berada di arah sebaliknya. Dari sini Saya ingin mengajak Agil mengenal Museum Mandiri. Namun hal yang pertama dia mau adalah makan. "Agil laper cik", pintanya pada Rini. Alhasil Saya harus mengajaknya makan terlebih dahulu. Pilihan Agil saat itu adalah soto ayam dari pedagang kaki lima. Namun Ia kecewa dengan rasa soto pilihannya."gak ada rasanya", keluhnya. Beruntung ketoprak pilihan Saya memiliki cita rasa yang cukup enak. Bumbu kacang dan rasa bawang putihnya pas.
Perut Sudah terisi, perjalanan kembali dilanjutkan. Rencana awal yang ingin mengenalkan Agil dengan Museum mandiri, Saya ubah. Daripada harus balik lagi ke jalan semula kenapa tidak masuk Saja ke Museum Wayang atau Museum Fatahillah, jaraknya toh lebih dekat. Pikir Saya saat itu. Namun rencana hanyalah tinggal wacana. Pintu Museum sudah tertutup. Saya baru ingat kalau museum tutup jam 4 sore. Padahal saat itu waktu hanya berselisih sedikit dari jam tutup.
Selalu ada rencana cadangan, kata orang-orang. Itu juga yang saya gunakan. Berbekal tongsis yang lagi eksis, Kami pun jalan di pelataran bekas gedung Gubernur Batavia kala itu. Agil pun keranjingan dengan mainan barunya. Telepon seluler istri dan tongsis tidak lepas dari genggamannya. jeprat sana jepret sini, dia bergaya layaknya model dan fotografer yang dia rangkap sendiri. Seperti terjangkit virus dari Agil Saya dan istri juga tidak mau kalah bernasis ria. Kadang, kami melakukannya bertiga.
![]() |
| Kena virus Agil jadinya narsis juga |
| Agil bersama Makciknya bergaya di Pelataran Kota Tua |
| Jul Menatap keindahan perairan Pulau Peucang, Banten |
Waktu termakan cukup lama, mungkin sekitar 4 jam sebelum tiba di Alfamart yang berhadapan langsung dengan Indomart, pesaingnya, di desa Sumur, Ujung Kulon. Ini merupakan petunjuk dari Bapak Edi lewat obrolan sebelumnya. Dari sini mobil melaju perlahan mencari penginapan dengan Sarang Badak sebagai namanya.
Sangat mudah menemukan penginapan itu, Alil yang bertugas membawa mobil mendapat bantuan dari seorang pria. Tangannya melambai, mengarahkan untuk memasuki area penginapan. Ternyata itu Bapak Edi, Tubuhnya gempal dan memakai kacamata. Ia telah menunggu kedatangan kami dari tadi.
Saat itu sudah dini hari. Pak Edi meminta Saya untuk tidur, "penyebarangan besok berangkat Pukul 07.00," mintanya dengan logat Sunda yang kental. Saya menuruti perkataanya, lagi pula badan juga sudah rindu dengan kasur.
Benar saja, Pukul 07.00 rombongan kami berangkat. Pak Edi menjadi pemimpin rombongan. Ada sekitar 20 orang lebih yang di bawahinya saat itu. Kami menuju Pelabuhan Sumur. Suasanya ramai. Banyak pedagang ikan dan pembeli. Kadang suara mereka saling beradu mempertahankan harga yang diinginkan.
Rombongan kami terpecah menjadi dua. Rombongan pertama yang dikomandai langsung oleh Pak Edi di isi dengan satu keluarga besar yang beranggotakan sekitar 15 orang. Sedangkan Saya dan teman-teman bergabung dengan sesama pejalan lainnya.
Kapal berukuran kecil mengantar Kami sebelum pindah ke kapal yang lebih besar. Hal itu harus dilakukan, karena Pelabuhan Sumur memiliki perairan yang dangkal. Dari sini Pulau Umang sudah terlihat namun itu bukanlah tujuan utama. Saya masih harus bersabar, menunggu kapal bergerak lebih jauh lagi ke arah barat.
| Jul diantara hamparan pasir yang luas di Pantai Bagedur |
Perjalanan ke daerah Malingping terpaksa dilakukan karena menurut GPS yang terpasang di bagian depan mobil, rute ini merupakan jalur yang terdekat dari Ujung Kulon menuju Desa Sawarna. Mau tidak mau Saya dan teman harus berhadapan dengan mutu jalan yang sangat buruk kualitasnya.
Setelah menjalani jalan yang buruk dan merasakan mabuk darat karena goncangan, hati saya sedikit terobati. Hamparan pasir hitam yang luas memanjang, dengan ciri khas angin laut yang kencang, membuat kenangan akan lubang jalan mulai sedikit terkikis. Pantai Bagedur namanya, yang berhasil mengobati rasa gundah Saya akan jalanan di daerah Malingping.
Pasir di pantai ini bertekstur padat. Bahkan mobil yang Saya tumpangi berhasil melintas dengan damai tanpa ada hambatan. Warnanya coklat agak menghitam, garis pantainya landai, memanjang jauh hingga berbatas dengan karang. Ombaknya keras melahirkan warna buih putih di tepiannya.
Pada bagian tepi terjauh pantai, berjejer warung-warung sedehana yang dibangun dengan bambu dan kayu. Atapnya menggunakan daun kelapa yang telah dikeringkan lalu dirajut. Saya masuk ke dalam satu warung itu. Penjualnya seorang ibu-ibu. Saya pun memesan kopi lalu meminta izin duduk pada kakek-kakek yang sedang sibuk menganyam daun kelapa yang kering.
Pada kakek-kakek itu Saya bertanya mengenai Pantai Bagedur yang menurutnya sangat ramai pada sore hari apalagi saat akhir pekan. Masih lanjutnya, kadang muda-mudi di sini menggunakan pantai sebagai arena balap motor. Hal itu mengingatkan Saya akan Pantai Pasir Padi di Pulau Bangka.
Obrolan kami pun meluas, Kakek itu ternyata pernah berada di Jakarta dengan rentang waktu yang cukup lama.Saat di jakarta dulu ,dirinya berprofesi sebagai supir taksi baik yang legal maupun tidak legal (taksi gelap). Ia juga bercerita dengan bangga, bahwa dirinya menikahi dengan gadis yang umurnya jauh melebihi umurnya. Saat itu umurnya 37 tahun, sedangkan sang istri saat itu baru berumur 14 tahun. Kakek itu juga memberi tahu bahwa istrinya merupakan ibu-ibu yang membuatkan pesanan kopi. Saya agak terkejut dan kagum pada kakek-kakek itu. Saya bilang padanya, "saat fase umur seperti bapak, bapak masih bisa dapat yang sangat muda." Kami pun tertawa bersama.
Topik obrolan kami semakin mundur ke belakang, ke zaman kemerdekaan. Saat itu si kakek masih kecil, Ia ingat ketika bapaknya membawa dirinya ke sebuah lapangan yang ramai akan manusia. Di mimbar, berdiri seorang pria berjubah putih lengkap dengan pecinya yang hitam. Suaranya lantang dan bertenaga membuat siapa yang mendegarnya terpaku, hening mendengarkan dengan seksama. Setiap kalimat yang dikeluarkan pria di atas mimbar itu penuh dengan sarat makna. Kata-kata yang dikeluarkannya membakar semangat bahkan kata si kakek, orang-orang yang datang pada waktu itu seakan terhipnotis dengan pidato Bung Karno. Mereka seakan satu paham dan jiwa dengan presiden Soekano.
Saya jadi ingat kutipan Bung karno bahwa "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Saya dan kakek itu berharap suatu saat nanti Indonesia dapat dipimpin orang yang visi kenegaraannya seperti Soekarno. Luas dan hidup untuk rakyat. Kakek itu merasa rindu dengan sosok Soekarno. Rindu akan pidatonya yang berapi-api.
| Jul, Kopi dan Bukit Habibie |
Tidak perlu waktu lama untuk mengucapkan rasa kagum dengan apa yang saya lihat. Dari sisi kejauhan membentang birunya lautan, pada bagian tepinya buih hasil pecahan ombak menghasilkan warna putih yang berjalan lambat. Sedangkan garis pantai terlihat berkelok-kelok memanjang hingga menghilang dari penglihatan saya. Pada sisi terdekat, pepohonan dan gundukan bukit yang menghijau mendomasi warna yang terlihat. Sangat meneduhkan mata Saya kala itu.
Saya mengambil posisi duduk di salah satu warung. Mejanya memanjang dan menghadap lanskap yang cantik khas alam nusantara. Hawanya sejuk padahal saat itu matahari sedang mengeluarkan sinar yang paling kuat. Saya memesan kopi hitam sambil bertanya pada Akang penjaga warung. Ia mengatakan bahwa nama tempat ini adalah Bukit Habibie atau Puncak Habibie. Dengan gaya bicaranya yang kemayu, Ia menambahkan bahwa di puncak bukit sana ada vila Bapak Habibie. Sambil tangannya menunjuk salah satu bukit.
Masih lanjut dari Akang penjaga warung, mantan presiden ke-3 tersebut memiliki hampir 10 hektar tanah termasuk warung yang di jaga si Akang. Mantan Presiden itu menggunakan helikopter jika ingin berkunjung ke vilanya yang terdapat di bagian puncak. Saya iri mendegar hal itu, sungguh nikmat bisa beristirahat santai. Apalagi hawa dan panorama yang ditawarkan sangat menggiurkan.
Akhirnya kopi hitam pekat saya datang. Sedikit demi sedikit Saya seruput kopi sasetan yang panas itu. Walaupun hanya berupa kopi kemasan, tidak membuat rasa kopi ini tidak enak. Saya yakin jika dibandingkan dengan negara lain apalagi daratan eropa, kopi kemasan di Indonesia masih yang terlezat.
Kopi di tangan, pemandangan yang apik, bukit yang sejuk memberikan keteduhan yang masuk ke dalam pikiran Saya saat itu. Kadang semilir angin menggoda, mencoba bermain dengan lapisan kulit terluar. Menambah rasa nyaman yang jarang Saya dapatkan saat berada di Jakarta.
| Letaknya Bukit Habibi di perbatasan Banten dan Pelabuhan Ratu |
| Bukit Habibie sering digunakan untuk tempat singgah bagi para pejalan Banten-Pelabuhan Ratu |
Bulan Mei 2014 Saya berkunjung ke Pulau Sangiang. Letaknya di Selat Sunda terapit Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Secara administratif masuk dalam kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten.
Selasa, 7 Mei 2014,
pukul 9 malam. Saya bertemu dengan Bapak Abdul. Polisi hutan Pulau
Sangiang. Perawakannya seperti orang Arab. Tinggi, hidung mancung dan besar. Kulitnya
gelap. Saya minta penjelasan beliau tentang cara dan apa saja yang dibutuhkan. Ia menjelaskan secara rinci. Biaya, akomodasi sampai waktu yang tepat.
Sepertinya Bapak Abdul sudah paham betul mekanisme ini.
Naik Perahu, Berangkat
Pukul 9 pagi esoknya,
Saya tiba di Pelabuhan Anyer. Pelabuhannya tidak terlalu besar tapi bersih.
Tidak seperti Pelabuhan Muara Angke di Jakarta. Hitam pekat dan berminyak.
Mungkin jika tercebur, kulit bisa mengelupas. Di salah satu sudut Pelabuhan
Anyer terdapat bangunan. Sekilas terlihat tulisan Tentara Nasional Indonesia
di plang bagian depan bangunan.
Bapak Abdul sudah tiba
terlebih dahulu rupanya. “Mas Riky sini”, panggil bapak Abdul. “iya Pak,” Saya menghampirinya ke perahu. Bentuk perahu tidak terlalu besar.
Mungkin berkapasitas 15 orang. . Warna catnya biru. Pas sekali dengan
air laut dan langit saat itu.
Sekitar pukul 10, Saya sampai di Pulau Sangiang. Barang-barang dibawa turun. Termasuk dua motor milik
Bapak Abdul dan Kang Agus. Tempat Saya menginap
berupa bangunan pos Polisi Hutan. Bersebelahan dengan pos TNI AL. Di dalamnya
terdapat dua ruangan dan kamar mandi. Bagian depannya ada teras dan dapur di
sisi samping. Kami istirahat sebentar dilanjutkan makan. Semua bahan yang di
masak dibeli dari luar pulau. Saya makan dengan nasi, ayam goreng, tahu dan
tempe sebagai lauknya. Ditambah dengan sambal sebagai pelengkap. Sumpah ini nikmat
banget.
Brrmmm... Jelajah pulau naik motor
Rombongan kami pergi ke
arah timur pulau. Saya mendapat pinjaman motor jenis trail dari petugas TNI AL.
Ateng duduk di bagian belakang. Sedangkan Bapak Abdul bersama Beki dan Kang Agus
sendirian.
“Hayo loh Jul, Jatoh
deh nih motor”, seru Ateng sambil tertawa.
“Tenang Teng, gue jago
bawa nih motor, skor 8 lah buat gue.” Padahal Saya baru pertama kali mengendarai
motor jenis ini.
“iya deh.” Ateng berat
mengakui.
Sering kali Ateng
menggoda tapi Saya tetap fokus. Kadang-kadang tertawa juga. Tidak tahan
dengan tawa Ateng yang lucu. Nama asli Ateng sebenarnya adalah Adi. Namun
karena posturnya yang mirip pelawak lawas, nama pemberian orang tuanya menjadi
tidak terpakai lagi.


