Saat itu di depan Gerbang Balai Yasa milik PT Kereta Api, Saya duduk di atas motor scoopy bewarna merah putih sedang menunggu teman. Sudah hampir setengah jam lamanya. Namun orang yang diharapkan tidak kunjung datang. Seharusnya, dari obrolan semalam di BBM kami janji bertemu pukul sebelas siang. Setelah beberapa kali lirikan ke spion motor, akhirnya Umang datang. Postur tubuhnya jangkung dan memiliki senyum yang ramah. Ia mengenakan kaos bewarna merah dilapisi dengan jaket tanpa lengan. Tidak seperti pakaian dinas yang biasa ia pakai. Katanya tidak enak kalau dilihat sekuriti.
"Ambil kanan aja, jangan ke stasiun," perintah Umang mengarahkan. Tidak jauh dari jembatan shelter trans jakarta Pasar Jatinegara, motor Saya belokan ke arah kiri, masuk ke jalan yang lebih kecil. Beberapa ratus meter dari situ, kios-kios berukuran kecil berjejer saling berhimpitan. Bunyi ketukan palu dan mesin pemoles batu terdengar saling bersahutan. Orang-orang berdiri di depannya, ada juga yang sekedar melihat-lihat sambil berlalu-lalang. Padahal kondisi jalan saat itu becek bercampur tanah bekas sisa hujan.
Semakin ke ujung, Saya memeperlambat laju motor. Jalan yang rusak dan banyaknya pengendara motor menjadi pertimbangan. Akhirnya Saya memarkirkan motor di salah satu sisi jalan. Berhimpitan dengan motor-motor lainnya yang telah dulu tiba. Pada bagian ujung jalan itu, terpampang nama Jl Bekasi Barat 1 dan tembus ke Jl Bekasi Barat. Dari tembusan jalan tersebut, stasiun Jatinegara telihat hanya beberapa ratus meter saja.
Eli dan Kepingan Batu
Bangunan itu tampak belum sepenuhnya selesai. Lapisan semen bewarna abu-abu masih menempel pada sisi dinding bangunan. Teksturnya juga masih kasar. Sedangkan pada bagian dalam gedung, orang-orang berjalan hilir mudik. Kepala mereka hampir serempak menunduk. Menatap batu-batu yang berserekan di atas meja. Kadang mereka berhenti, memegang dan melihat dengan seksama batu yang menjadi pilihannya.
Umang mengenalkan Saya pada wanita setengah baya. Eli namanya. Ia berbicara dengan logat sunda yang masih melekat. "Gue tinggal dulu ya, lo tanya-tanya aja," kata Umang lalu pergi.
Sepeninggal Umang, Saya memperhatikan kepingan batu yang terkumpul dalam beberapa baskom berisi air. Pada salah satu baskom, terdapat kepingan batu yang bercorak warna merah dan hijau tidak beraturan. Di sampingnya, batu bewarna hitam mengkilat menyapa rasa penasaran Saya. Kata Teh Eli, itu batu opal dari Banten. Sedangkan batu yang memiliki guratan bewarna-warni berasal dari Garut "namanya batu Pancawarna," kata teh Eli menjelaskan.
Bukan Saya saja yang tertarik dengan kepingan batu jualan Teh Eli. Orang-orang silih berganti menghampiri kiosnya. Jemari mereka mengaduk kepingan batu yang berada di dalam baskom. Lalu memandangnya dengan tajam. Kadang diantara mereka menggunakan senter untuk melihat kadar kristal yang terkandung dalam batu. Maklum saja, lapak teh Eli sangat strategis. Letaknya berada di depan pintu masuk. Tepat setelah anak tangga terakhir sebelum memasuki isi dalam gedung.
Teh Eli mendapatkan kepingan batu dari petani, begitu ia menyebut penambang batu. Sekali beli, teh Eli langsung membelinya dengan borongan. bisa puluhan kilo hingga beratus kilo Kadang ia harus menggunakan truk untuk mengankut kepingan batu langsung dari sumbernya. Terlintas pikiran Saya membayangkan bagaimana para penambang batu harus masuk ke dalam-dalam goa, memukul keras-keras dinding goa demi mencari batu untuk sebuah rupiah. Begitu beratnya hidup mereka.
Mata Saya beralih ke meja terjauh di kios milik teh Eli. Dari sana tampak kepingan batu sudah berubah bentuk menjadi lebih kecil dan lebih menarik. Sudah sempruna untuk dijadikan batu cincin. Bentuknya ada yang bulat lonjong, ada pula yang bulat sempurna. Begitu juga dengan warnanya. lebih kinclong dan bersinar. "biar pembeli bisa milih bentuk yang dia suka, kalo bentuknya gede semua atau kecil semua jadi susah jualnya," ujar teh Eli memberi tahu.
Saya merasa heran, biasanya setiap kios apapun jualannya pasti memiliki nama. Rasa tahu itulah yang Saya tanyakan pada teh Eli. Ternyata nama kiosnya adalah Ki Santang. Jawaban itu sekaligus menjawab mengapa banyak tinta hitam yang tercoret di baskom-baskom milik teh Eli.
***
Cerita Sebelumnya Pulau Moyo Saat Itu Bagian 1
Tali Kapal yang mengikat di dermaga sudah dilepaskan. Lalu kapal mulai kembali berlayar kembali. Tidak beberapa lama, Kapal kembali bersandar di dermaga. Pondasinya sudah terbuat dari beton. Saya jalan menyisir jalan utama. Terlihat rumah-rumahnya berderet saling berhimpitan di antara gang. Saya berhenti di sekolah dasar. Dimana tempat saya dan rombongan lain beristirahat dan tidur. Nama desa ini adalah Desa Labuan Aji.
Saya rebahkan kaki untuk sesaat. Mengistirahatkannya agar tidak keram. Setelah makan siang. Saya dibonceng warga lokal bergerak menuju destinasi wisata. Motor melaju di jalan datar untuk sesaat. Lalu menjadi tanjakan. Pepohonan kering menjadi pemandangan Saya ketika itu. Kadang pemandangan berupa pepohonan menghitam dan telah rata dengan tanah. Motor terus bergerak masuk ke dalam hutan lebih dalam hingga harus berhenti. Jalanan berupa tanah dan sempit menjadi penyebabnya. Dari situ Saya mulai melangkah menyusuri pedalaman hutan Pulau Moyo.
Suara air jatuh diselingi gelak tawa terdengar di kejauhan. Semakin lama semakin terdengar. Rupanya para pengendara sepeda sudah tiba lebih dulu. Saya melintas di jembatan yang terbuat dari batang pohon. Di bawahnya mengalir sungai. Airnya terlihat bening. Saya terus melangkah, menuruni batu demi batu sampai tiba di sebauh air terjun. Bagian bawah air terdapat kolam. Warnanya hijau, hampir senada dengan warna pepohonan di sekelilingnya. Mata Jitu, begitu nama air terjun ini.
Kata warga lokal yang memandu Saya, nama itu diberikan karena tempat jatuhnya air sangat tepat di bawah kolam. Jitu atau tepat sasaran, begitulah kira-kira cerita yang Saya dapat mengenai asal mula nama Air Terjun. Tapi ada juga Nama lain air terjun ini. Namanya Lady Water Fall. Seperti yang diceritakan seorang teman di Sumbawa waktu itu. Ia punya alasan mengapa disebut demikian. Saat itu Putri Diana atau Lady Diana pernah berkunjung ke Air terjun Mata Jitu bersama Pangeran Wililiam dan Pangeran Henry. Mulai dari situ nama Air terjun lebih dikenal dunia dan memilki penyebutan lain. Bentuk air terjun ini berundak-undak hingga sampai ke bawah. Namun pada air terjun utama, ketinggian jatuhnya air mencapai 5 meter. Itu perkiraan Saya waktu itu.
Saya teringat perjalanan ke Pulau Moyo November 2012 saat itu. Perjalanan yang melelahkan juga menyenangkan. Banyak hal baru serta pengalaman yang Saya dapatkan di perjalanan tersebut. Saya juga mendapatkan keindahan dan pengetahuan alam nusantara yang indah. Sampai saat menulis ini, Saya masih merasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan tuhan. Diberikan kepercayaan olehnya untuk mengenal Pulau Moyo lebih dekat dan berbagi cerita lewat tulisan ini.
Langit telah gelap saat itu. Tubuh Saya tergeletak di atas kasur Hotel Tambora, Sumbawa, NTB. Letaknya bersebelahan dengan kantor bupati. Ukurannya cukup luas jika dibandingkan dengan hotel-hotel lainnya di Sumbawa. Usia hotel mungkin sudah cukup tua. Terlihat dari pendingin udaranya. Sangat berisik dan berbentuk kotak. Seperti keluaran generasi lama. Tapi hembusannya cukup terasa. Mmembuat hati Saya senang.
Walaupun telah malam, udara di sini membuat gerah, apalagi saat berada di dalam kamar. Kata orang, tanah Sumbawa memiliki 9 matahari ketika siang. Itu bukan isapan jempol. Saya juga merasakannya ketika itu.
"Tok...tok....tok....," suara itu terdengar pelan. Sumbernya dari jendela. Saya buka tirai yang menghalangi. Terlihat seorang bocah dari balik kaca. Saya hanya memberinya acungan jempol. Ketika melihat itu, ia beranjak pergi dan Saya melanjutkan tidur kembali. "tok...tok...tok....," suara itu kembali terdengar , kali ini seorang pria jangkung yang terlihat. Dari bibirnya dia berbicara tanpa suara. Terlihat meminta Saya untuk segera bangun. Wajahnya terlihat serius, Saya pun bergegas. Bergerak cepat membereskan tas dan keluar dari kamar.
![]() |
| Memandang dari atas Pulau Baling-baling sangat menenangkan |
Tali yang mengikat pada perahu Saya tarik. Perahu pun mendekat, membuat langkah Saya dengan mudah tiba di atas perahu. "tadinya kita mau naik perahu no problem," kata Ridel pemandu Saya. Namun rencana itu urung dilaksanakan. Peralatan yang di bawa Andi menjadi pertimbangan. Ia takut dengan air laut yang bergejolak bisa merusak peralatan.
Bentuk kapal no problem sangat kecil. Mungkin seperti sampan yang diberi mesin. Antara tepian perahu dan permukaan air sangatlah dekat. Warnanya di cat orange. Beda dengan perahu yang Saya tumpangi. Warnanya putih di bagian luar dan biru pada bagian dalamnya. Mungkin berkapasitas mencapai 15 orang. Cukup untuk mengangkut Saya, Ibo, Andi. Ditambah Ridel, Kiki dan ayahnya. Meski begitu, air tetap berdekatan dengan perahu yang kami tumpangi.
Perahu bergerak perlahan. Di dorong dengan bambu yang diceburkan. Karang-karang masih tampak jelas di permukaan air. Kiki berada di bagian ujung depan perahu. Memberi navigasi pada ayahnya yang bertugas di belakang. Setelah berada di perairan yang cukup dalam, mesin kapal akhirnya dinyalakan.
Cuaca saat itu panas. Angin bergerak bebas ciri khas laut. Gulungan ombak tak segan menerpa bagian depan perahu. Membasahi bagian dalam termasuk pakaian yang Saya kenakan. Gelombang ombak terus menerjang perhau. Semakin ke tengah, gempuran yang di dapat semakin kencang. Kadang perahu berada di atas ombak lalu turun dengan cepat. Melahirkan bunyi yang keras dari dasar perahu. Ibo panik. Ia meminta jaket pelampung. Sadar akan dirinya yang tidak bisa berenang.
![]() |
| Anak-anak bercanda di jalan sempit Kampung Bandan |
Motor Saya paksakan bergerak. Membelah genangan air yang bewarna coklat pekat. Mobil di sisi kanan melaju dengan bebas. Melahirkan gelombang. Membuat motor saya agak goyah ketika terhantam. Jalan juga berlubang dan berkerikil. Kemudi motor Saya bergerak tidak sesuai dengan keinginan.
Pelan-pelan Saya mengambil lajur di sebelah kanan. Airnya tetap tinggi namun jalannya lebih rata dibandingkan lajur di sebelah kiri. Beberapa motor kehilangan lajunya. Raut wajah sang pemilik terlihat kesal. "jangan mati, jangan mati" ungkap Saya dalam hati. Berharap mesin motor Saya tetap kuat menghadapi ujiannya. Perlahan Saya mainkan gas agar tetap mampu berjalan. Di depan sana terlihat aspal yang menghitam. "Sedikit lagi sampai" Saya memberi semangat pada diri sendiri.
"ahh..." nafas Saya menghela nafas panjang. Tubuh yang tegang menjadi tenang. Perasaan juga menjadi lega. Genangan itu berhasil saya lalui. Motor saya gas melewati Mangga Dua square lalu berbelok ke kiri arah Tanjung Priuk. Pada putaran jalan, saya sempat berhenti.untuk bertanya. "ikutin jalan ini aja bang nanti adanya sebelah kanan", jelas tukang parkir putaran sambil menunjuk jalan.

