Jalan Bareng Riky

Follow Me

Pulau Moyo Saat itu Bagian 1



By  rachmat fazhry     Selasa, Februari 17, 2015    Label: TripnFUn, Foto, Video,,,,,, 

Saya teringat perjalanan ke Pulau Moyo November 2012 saat itu. Perjalanan yang melelahkan juga menyenangkan. Banyak hal baru serta pengalaman yang Saya dapatkan di perjalanan tersebut. Saya juga mendapatkan keindahan dan pengetahuan alam nusantara yang indah. Sampai saat menulis ini, Saya masih merasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan tuhan. Diberikan kepercayaan olehnya untuk mengenal Pulau Moyo lebih dekat dan berbagi cerita lewat tulisan ini.

Langit telah gelap saat itu. Tubuh Saya tergeletak di atas kasur Hotel Tambora, Sumbawa, NTB. Letaknya bersebelahan dengan kantor bupati. Ukurannya cukup luas jika dibandingkan dengan hotel-hotel lainnya di Sumbawa. Usia hotel mungkin sudah cukup tua. Terlihat dari pendingin udaranya. Sangat berisik dan berbentuk kotak. Seperti keluaran generasi lama. Tapi hembusannya cukup terasa. Mmembuat hati Saya senang.

Walaupun telah malam, udara di sini membuat gerah, apalagi saat berada di dalam kamar. Kata orang, tanah Sumbawa memiliki 9 matahari ketika siang. Itu bukan isapan jempol. Saya juga merasakannya ketika itu.

"Tok...tok....tok....," suara itu terdengar pelan. Sumbernya dari jendela. Saya buka tirai yang menghalangi. Terlihat seorang bocah dari balik kaca. Saya hanya memberinya acungan jempol. Ketika melihat itu, ia beranjak pergi dan Saya melanjutkan tidur kembali. "tok...tok...tok....," suara itu kembali terdengar , kali ini seorang pria jangkung yang terlihat. Dari bibirnya dia berbicara tanpa suara. Terlihat meminta Saya untuk segera bangun. Wajahnya terlihat serius, Saya pun bergegas. Bergerak cepat membereskan tas dan keluar dari kamar.


Di lobby hotel sudah berkumpul orang-orang. Salah satu dari mereka meminta Saya untuk naik ke kendaraan. Bentuk kendaraan itu seperti motor. Di belakangnya terdapat bak, persis seperti kendaraan yang  mengangkut sayur mayur atau galon air. Bedanya, bagian bak belakang kendaraan itu memiliki penutup. Cukup untuk menjaga tubuh Saya dari hembusan angin ketika itu.

Birunya langit mulai tampak walau masih tertutup gelap. Kendaraan yang membawa Saya keluar dari kota Sumbawa. Terus berjalan hingga jalan menanjak dan berbukit di sisi sampingnya. Akhirnya Saya tida di sebuah dermaga kecil. Tempat dimana para pekerja Amanwana Resort dijemput dan dipulangkan.

Ukuran kapal yang Saya tumpangi cukup besar. Memiliki dua tingkat dan kamar mandi. Saya mengambil posisi di geladak depan. Ingin melihat pemndangan tanpa halangan.

Kapal bergerak melintasi perairan. Namun kapal harus berhenti sesaat. Kelompok sepeda sudah menunggu di salah satu penginapan lainnya di Sumbawa. Terlihat dari kapal, mereka berombogan menunggu di tepi dermaga, mungkin sekitar 30 orang.  Saat itu air sedang surut. Membuat kapal yang Saya tumpangi tidak bisa bergerak leluasa.Terpaksa kapal kecil milik penginapan diutus untuk mengangkut sepeeda. Sedikit demi sedikit sepeda mulai terangkut. Begitu juga dengan pemiliknya.

Cakrawala secara perlahan mulai menyapu gelap. Kapal terus melaju membelah ombak. Pada salah satu sisi kapal terlihat Pulau Moyo yang bersebelahan. Bebatuan karang begitu perkasa walau dihempas gulungan ombak. Sementara itu, garis pantai memanjang bewarna putih kecoklatan kadang-kadang terlihat. Namun tak ada satu pun dermaga yang terbangun di sisinya. Kapten terus menggerakkan kapalnya, melaju melintasi perairan Selat Moyo.

Pulau Moyo terlihat bersebelahan namun tidak semua sisi aman untuk bersandar kapal
Pulau Moyo tidak seperti yang Saya duga sebelumnya. Terlihat begitu dekat namun sangat luas. Pohon-pohon dikejahuan masih tampak lebat dan padat. Kadang burung-burung terbang lalu hinggap kembali di pucuk pepohonan. Mereka saling bercanda mengepakkan sayapnya.

Deru mesin kapal perlahan memperlambat lajunya. Dermaga yang dituju sudah mulai terlihat. Bentuknya sangat sedehana. Terbuat dari kayu dan hanya memiliki panjang beberapa meter. Tipikal dermaga pulau-pulau di Indonesia.  Kapal mulai mencari posisi. Bergerak miring hingga bersandar sempurna. Tali diikat ke salah satu bagian dermaga. Mencegah kapal agar tidak lari.

Desa Sebotok, Pohon Cinta dan Air Terjun Sengalo

Desa itu tidak begitu luas. Rumah-rumahnya bergaya rumah panggung. Jarak antara rumah dan yang lainnya tidak terlalu padat. Hampir diantaranya memiliki perkarangan. Jalannya berupa tumpukan batu yang di susun. Ada juga yang masih berupa tanah bercampur pasir. Saya beserta rombongan diterima di rumah kepala desa. Rumahnya agak besar dibanding rumah didekatnya. Saat berpapasan, wajah pemilik rumah dan masyarakat lainnya menebar senyum ramah. Ciri khas senyum Indonesia. Desa ini bernama desa Sebotok. Satu diantara dua desa terbesar di Pulau Moyo.

Selepas makan siang, rombongan sepeda mengayuh pedalnya ke pesisir pantai. Katanya ada sebuah air terjun di balik hutan sana. Saya penasaran dan meminta jasa pemuda setempat mengantar Saya ke Air terjun. Ia pun setuju dengan lembaran Rp 50.000 sebagai imbalan. Begitu juga dengan Saya.

Motor melaju dengan kencang menyelip diantara pepohonan. Pemuda lokal sudah hapal dengan kondisi jalannya. Kadang berbatu kadang tanah. Jalanannya sangat sempit. Hanya bisa dilewati dua motor sekaligus. Semakin jauh, jalanan mulai tertutup dengan pepohonan. Terkadang kaki Saya harus diangkat guna menghindari pepohonan yang berduri. Kadang ban motor juga terselip diantara pasir yang lembut. Hingga akhirnya motor terpaksa berhenti diantara semak belukar.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyisir pantai sambil berjalan kaki. Pasirnya bewarna putih kehitaman. Diatasnya terhampar bebatuan karang yang sudah mati. Semakin jauh melangkah, pasir berubah menjadi hitam. Saya berhenti sejenak di bawah pohon. Terdapat aliran sungai di bawahnya.  Kata pemuda lokal, nama pohon itu adalah pohon cinta. Masyarakat di sini percaya, jika melempar tali yang telah diikat lalu tersangkut, maka jodoh yang diharapkan akan terwujud. Pemuda lokal itu. Cerita itulah yang menjadi jawaban mengapa banyak batu hingga sepatu bergelantungan di dahan pohon.

Dari Pohon Cinta, arah perjalanan berubah masuk ke dalam hutan. Kontur tanahnya sedikit menanjak. Pepohonannya bewarna kuning kehijauan-hijauan. Langkah Saya terus mengikuti jejak si pemuda lokal. Kadang langkah kami melewati aliran sungai kecil. Semakin ke dalam, pepohonan semakin lebat namun kering. Dedaunan tampak sudah berguguran jatuh ke tanah. Dari kejauhan gemericik air jatuh mulai terdengar pelan. Gairah Saya menjadi terpacu. Sudah tidak sabar dengan bentuk air terjun dan kesegeran airnya. Saya mempercepat langkah.

Airnya mengalir pelan. Terlihat seakan menempel pada dinding batu. Lalu berkumpul pada satu wadah yang berbentuk seperti kolam alami. Pinggir kolam ditopang oleh batu-batu. Pada guratan batu terlihat sisa air yang mengalir dan membeku karena waktu. Terlihat alam mengambil peran dalam proses keindahan. Sementara itu, kolam lainnya memiliki bentuk seperti jacuzi. Sangat mirip dengan kolam-kolam di pemandian hotel kenamaan. Namun pepohonan dan akarnya yang tua yang menjadi pembeda soal pemandangan.

Dari kolam, aliran air terus mengalir lagi jatuh ke bawah. Membuat alirannya menyusur hingga terbentang memanjang ke bawah. Mungkin aliran inilah yang Saya lihat tadi di Pohon Cinta di bawah sana. Saya memanjat satu demi satu hingga tiba di bawah aliran air terjun. Gempuran airnya menerpa tubuh Saya seperti dipijat. Energi yang hilang mulai kembali lagi. Setelah puas, Giliran kolam yang menjadi pilihan. Warnan airnya hijau. Membuat tubuh Saya tidak tahan dengan daya pikatnya.

Matahari sudah berranjak turun. Saya bergegas kembali ke rumah kepala desa. Di pantai, Saya disuguhkan panorama matahari tenggelam. Sinarnya berpadu dengan sempurna. Melahirkan  warna merah jambu di kejauhan. Baru kali ini Saya melihat pancaran sang surya seperti itu. Membuat senyum tipis keluar dari bibir Saya.

Setelah makan malam Saya berbincang-bincang dengan kepala desa mengenai Air Terjun Sengalo. Dari cerita turun temurun, Kisah dimulai saat pelaut asal Tiongkok menyandarkan kapalnya dan beristirahat setelah perjalanannya yang panjang. Ia bersama anak buahnya masuk ke dalam hutan untuk mencari air. Keberuntungan menerpa dirinya. Air mengalir deras dari air terjun. Ia pun memberi nama air terjun temuannya itu sesuai dengan namanya yaitu Cheng Lo. Namun pelafalan yang sulit membuat masyarakat lokal lebih suka menyebutnya Sengalo. Dari situ Air terjun berubah nama dari Cheng Lo menjadi Sengalo. Pulau Moyo Saat Itu Bagian 2 (Air Terjun Mata Jitu)

Kolam alami dikelilingi bebatuan yang terlihat tua

About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar