Jalan Bareng Riky

Follow Me

Desa Tumbak Dalam Sehari: Tompaso, Tanah Leluhur Minahasa



By  rachmat fazhry     Sabtu, Maret 07, 2015    Label: TripnFUn, Foto, Video,,,,, 



Terompet Raksasa di Institut Seni Budaya Sulawesi Utara
Cerita sebelumnya: Awal

Mobil kami menepi di Kawangkoan, kota kecil berhawa sejuk diantara Tompaso dan Tomohon. Ridel lapar rupanya. Ia membeli beberapa biapong dari sebuah kedai. Menurutnya, biapong dari kedai tersebut merupakan yang terlezat di Sulawesi Utara. Orang Manado juga mengakuinya.

Saya lebih mengenal biapong dengan sebutan bakpau ketika di Jakarta. Roti berisi daging, bewarna putih dan berbentuk bulat itu merupakan peningalan orang Tiongkok saat hijrah ke Batavia kala itu.

Biapong kawangkoan terkenal paling lezat seantero Sulawesi Utara
Perjalanan terus dilanjutkan hingga melewati sebuah restoran dengan patung sate kolombi sebagai penanda. Di sana, Saya pernah mencicipi paniki. Olahan yang dibuat dari daging kelelawar dicampur dengan rempah. Bentuknya seperti hati ampela ayam yang biasa Saya makan di warung tegal. Namun beda dengan paniki, makanan itu tidak berhasil melewati tenggorokan Saya. Sebaliknya, Andi malah terlihat lahap dengan hidangan saat itu.

Tak berselang lama, kami sudah tiba di Tompaso. Daerah ini memiliki pacuan kuda sebagai andalan. Letaknya berada di tepi jalan utama. Kata Om Ance, juru mudi Saya sebelumnya, Kuda-kuda dari daerah Tompaso memiliki lari yang cepat. Bahkan Prabowo, mantan Komandan Jendral Kopassus juga memiliki kuda Tompaso sebagai piaraaan. Selain itu, Tompaso juga dikenal sebagai daerah sejarah. Di sinilah pembagian wilayah Suku Minahasa dibentuk. Watu Pinawetengan namanya atau Batu Pembagian.

Perjalanan Saya ketika menuju Watu Pinawetengan, dibumbui dengan cerita mistis dari Om Ance. Dia bilang, mobil yang kami tumpangi tidak kuat menanjak. Padahal mobil ini baru saja diservis dan lancar-lancar saja ketika melaju di jalanan tanjakan lainnya. Saya sih tidak percaya dengan ceritanya. Logika Saya bermain. Wajar saja mobil terasa lebih berat saat menanjak. Toh kontur tanjakannya berbeda, agak lebih menukik dan Om Ance
sudah dirasuki dengan cerita-cerita mistis yang ia dapat sebelumnya.

Watu Pinawetengan letaknya di atas bukit daerah Pinabetengan. Pemilihan tersebut bukan tanpa alasan. Daerah itu kaya akan sumber mata air dan lokasinya berada di tengah-tengah tanah Minahasa, membuat tempat ini sangat strategis dan netral. Pemilihan yang sangat bijak menurut saya. Kebijaksanaan para ketua suku Minahasa tidak hanya soal pemilihan tempat. Watu Pinawetengan juga menjadi simbol demokrasi ketika itu. Bagaimana tidak, sembilan suku yang mendiami tanah Minahasa harus membagi wilayah mereka dengan adil dan arif. Ini merupakan tugas yang berat. Pasti tidak mudah mencapai kata sepakat. Saya yakin pasti terjadi silang pendapat, Adu argumen dan mementingan diri sendiri. Namun, musyarawah mengambil peran ego masing-masing. Sembilan ketua adat yang mewakili tiap suku berunding dan berhasil mencapai kata sepakat.

Watu Pinawetengan merupakan batu pembagian wilayah Suku Minahasa
Perjanjian itu tertuang dalam sebuah batu yang juga digunakan sebagai meja perundingan. Bentuknya setinggi 2 meter dan memiliki panjang dua kali lipat lengan Saya. Dalam Batu itu, tergurat beberapa simbol yang dipercaya sebagai pembagian wilayah tanah Minahasa. Meski pernah diteliti, namun makna yang terkandung belum bisa dipecahkan. Hanya cerita turun-temurun yang didapat dari penjaga menjadi pegangan Saya saat mengunjungi Watu Pinawetengan ketika itu.

Institut Seni Budaya Sulawesi Utara

Bercerita soal Tompaso, mengigatkan Saya dengan terompet raksasa. Letaknya berada di halaman Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Untuk mendegar suaranya, Saya harus menaiki beberapa anak tangga sebelum menekan tombol yang terdapat pada lubang tiup terompet. "tooooottt....." suara terompet itu menggelegar. Bunyi itu timbul karena adanya daya listrik yang terhubung dengan tombol. Padahal, Saat pertama kali melihat terompet itu, Saya kira hanya pajangan. Jika bisa dimainkan, caranya pasti sama dengan terompet kebanyakan. Namun prediksi Saya salah. Selain terompet raksasa, kolintang raksasa juga terpajang di salah satu sudut institut. Keduanya masuk dalam Museum Rekor Indonesia sebagai kategori alat musik terbesar. 

Institut Seni Budaya Sulawesi Utara tidak hanya sekedar yang besar-besar saja. Ada rumah tenun Kain Pinawetengan sebagai daya tarik lainnya. Di dalam rumah itu, kain tenun kreasi masyarakat lokal ditampilkan dengan apik. Motifnya menggunakani guratan-guratan yang ada pada Watu Pinawetengan sebagai inspirasi. Namun beda dengan Andi, Ia juga tertarik dengan salah satu wanita penjaga rumah tenun.Wajahnya berparas manis dan semampai. Andi giat berbicara dengannya. Usahanya tidak sia-sia, Ia berhasil mendapatkan nomor telepon seluler wanita yang menjadi incarannya ketika itu.

Sementara itu, pada bagian belakang rumah tenun, bunyi dentuman kayu terdengar terus-menerus dari sebuah alat. Pada sisi ruasnya, tampak benang-benang saling berhubungan yang terlihat sangat membingungkan. Namun tidak bagi wanita yang sedang duduk di hadapan alat itu. Sesekali tangannya memperbaiki benang jika terjadi kesalahan. Matanya tajam, fokus pada benang yang nantinya akan membentuk sebuah kain utuh. Pada sudut lainnya, seorang bapak, memintal kapas dengan sebuah alat putar. Alat itu digunakannya sebagai media untuk menciptakan benang. Saya memperhatikannya dengan seksama, meski begitu, tetap saja Saya kesulitan menangkap apa yang ia kerjakan pada saat itu.

Rumah Tenun Pinawetengan di Institut Seni Budaya Sulawesi Utara
Di samping rumah tenun, terdapat Museum Religi. Kata salah satu staff institut, museum itu merupakan gereja pertama yang dibangun di tanah Minahasa. Pondasinya terbuat dari kayu dan pada bagian dalamnya, terpajang foto-foto pastur dan jemaah ketika itu. Sangat kusam dan sebagian ada yang tidak jelas. Pada bagian lantai gereja masih menggunakan semen yang sengaja dibiarkan.  Bangku bagi jemaat dan mimbar untuk pastur saat berkhotbah juga tetap ada. Pada Jendela dan pintu memiliki ciri khas peninggalan kolonial. Bentuknya tinggi dan lebar, layaknya gedung-gedung tua di Kota Tua Jakarta.

Sebelum ke gereja, Saya sempat masuk ke Museum Pinawetengan yang letaknya berada di depan gereja. Hal yang paling menarik perhatian Saya ketika itu  adalah baju perang khas Suku Minahasa.  Warnanya merah dari atas sampai bawah dilapisi dengan kulit. Terbagi dalam beberapa potongan yang tidak utuh. Pada bagian kepala, bulu-bulu menjadi penhias. Mirip dengan baju adat khas Suku dayak. Selain itu, deretan kolintang dan musik bambu khas minahasa, berjejer memenuhi berbagai sudut ruangan. Pada bagian ujung ruangan, plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan, menempel sebagai penghias.

Cerita Selanjutnya: Dari Tiba Hingga Menggapai Pulau Baling-baling

Berbagai koleksi Museum Pinawetengan










About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

6 komentar:

  1. Biapongnya isi daging apa, kak? ayam atau kelelawar? :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. isi daging babi, mau coba? :D

      Hapus
    2. Daging babi itu nnikmat yesssss hahaha

      Hapus
    3. iya emang enak tapi cukup sekali aja nyobanya ah, haram soalnya heheee

      Hapus
  2. Terompet raksasa nya bukan di tiup yaa tapi di pencet tombiol nya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pas pertama saya kira ditiup om, pantes gak bunyi-bunyi hahaaa

      Hapus