Jalan Bareng Riky

Follow Me

Lelah Berakhir Semringah di Teluk Bidadari Pantai Mbehi



By  rachmat fazhry     Senin, Juni 12, 2017     



Namanya mengandung mitos memang. Bidadari, sosok wanita cantik yang tinggal di khayangan. Hanya ditambahkan teluk pada bagian depan namanya.

Saya  mengunjungi salah satu tempat bidadari mandi ketika mereka turun di bumi, awal Mei 2017. 

Di sana saya merasakan air yang sama. Air yang digunakan bidadari membasuh kulitnya yang putih nan halus. Begitu salah satu stigma mengenai bidadari yang beredar. 

Tapi saya tidak percaya dengan cerita itu. 

Padahal warga setempat  bercerita kepada saya,  "Kata orang-orang dulu, bidadari turun dari atas, mandinya di kolam itu," ungkap seorang ibu penjaga warung di tepi Pantai Banyu Meneng, pantai yang bersebelahan dengan Pantai Mbehi, lokasi Teluk Bidadari berada.

Teluk Bidadari terdiri dari dua kolam. Letaknya berada di tepi tebing. Warna airnya hijau. Menggoda tubuh saya untuk nyemplung. Apalagi pemandangannya, apik banget dengan lanskap lautan luas tak bertepi. 

Ukurannya tak begitu besar. Paling 4 kali berenang gaya bebas, tangan sudah sampai ke ujungnya. 

Tapi soal kedalaman,  bikin hati saya ciut waktu lihat pertama kali. Kayak enggak ada ujungnya. Cuma pas sudah nyebur, ya elah, ngepas sama ujung kepala saya. Sekadar info, kira-kira tinggi saya sekitar 167an lah. 

Mencapai Teluk Bidadari lumayan nguras tenaga. Saya harus nembus hutan, melewati pantai selok, naik bukit, turun bukit, ketemu pantai mbehi, naik bukit lagi, baru nyampe di teluk bidadari.


Alokasi waktu buat sampai ke lokasi, kira-kira 45 menitan dari pos awal. Itu belum termasuk perjalanan dari Kota Malang. 

Kalau dari kota Apel--sebutan Kota Malang--butuh waktu 3 jam-an buat sampe di pos awal.  Jalanannya rusak parah saat persimpangan Pantai Balekambang, Pantai Sendang Biru dan Pantai Kondang Merak. 

Padahal arah Pantai Balekambang dan Pantai Sendang Biru jalannya halus mulus, gak tahu kenapa jalan yang mengarah ke Pantai Kondang Merak, kayak di anak tirikan. Kasihan nasibnya. 

Teluk Bidadari masuk dalam kawasan hutan lindung. Jadi wajar saja kalau nanti diminta uang Rp 100 ribu. Uang itu nantinya digunakan untuk pemandu yang mengantar kita, kebersihan dan tiket masuk untuk 10 orang. Kalo 11 orang ya bayarnya lebih, kalau cuma bertiga, bayarnya tetap Rp 100 ribu. 

Sebelum memulai perjalanan, seorang pemandu akan memberi kita arahan. Dari jangan buang sembarangan, sampah harus dibawa balik lagi ke titik awal hingga kalau cape bilang. Tapi satu yang paling saya suka, yakni momen doa bersama. Merasa religius sekali saya waktu itu.

Pantai Mbehi
Jangan harap ada tukang nasi uduk atau pecel yang gelar lapak di sana. Mending bawa perbekalan sebanyak-banyaknya. Cuma jangan lupa, seperti arahan dari pemandu sebelumnya, "jangan buang sampah sembarangan dan bawa balik lagi sisa sampahnya."

Berdekatan dengan Teluk Bidadari ada lubang yang tembus ke laut. Kalau ombak besar, cipratan airnya akan menembus dari lubang itu. Suaranya menggelegar kayak bunyi cerobong kereta api. Saran dari ibu penjual warung yang saya temui, baiknya ke teluk bidadari datang pada pukul 09.00-12.00 WIB. Itu waktu yang pas, karena laut sedang sedang pasang. Nanti air yang muncrat dari lubang bisa mengangkasa sampai 25 meter. Yang paling menakjubkan, kata ibu itu ada pelangi usai airnya meninggi ke langit. Epik banget... 

Teluk Bidadari

 
Pantai Selok

About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar