Jalan Bareng Riky

Follow Me

Desa Tumbak Dalam Sehari: Digoyang Ombak dan Pulau Tumbak



By  rachmat fazhry     Selasa, Maret 31, 2015     


Pemandangan dari puncak Pulau Tumbak


Malam sebelumnya, agen perjalanan yang mengurusi perjalanan Saya ke desa Tumbak bilang, “cuaca di Tumbak masih aman,” katanya lewat whatsApp.

Setelah di dorong oleh paman, perahu kecil miliknya kembali masuk ke perairan. Ia pun loncat ke atas perahu dan duduk di belakang. Tali yang terbelit pada mesin perahu ditariknya dan “brrr…..” bunyi deru mesin menyala. Perlahan kami meninggalkan Pulau Baling-baling dengan bantuan angin dan dorongan ombak.

Di atas kapal, tubuh Ibo sudah terpasang dengan jaket pelampung bewarna orange. Sepertinya ia masih trauma dengan goncangan ombak saat menuju ke Pulau Baling-baling. Sedangkan saya, saya percaya dengan kemampuan paman. Ia berasal dari Makassar, darah Suku Bajo mengalir kuat di dalam diri paman. Saya tahu kalau Suku Bajo itu sangat pandai dalam melaut. Bahkan hidup orang Bajo banyak dihabiskan di laut daripada di darat. Kalau kata orang “Banyak pelaut handal dari Suku Bajo.” Ya benar atau tidaknya pernyataan itu, insting saya mengatakan, itu memang benar apa adanya. Suku Bajo adalah pelaut handal yang dimiliki nusantara.

Angin semakin deras mengalir, begitu juga dengan gulungan ombak. Pulau Baling-baling semakin jauh tertinggal. Di sebelahnya, terlihat Pulau Ponteng di kejauhan. Pulau itu memiliki bentuk seperti Pulau Baling-baling. Tinggi menjulang layaknya sebuah bukit. 

Perahu yang kami naiki tiba-tiba berada di atas ombak. Lalu meluncur dengan cepat. Semakin lama, perahu semakin tinggi di atas gulungan ombak. Mungkin ketinggiannya mencapai 3 meter atau lebih.  Kadang perahu di atas ombak dan diam untuk sepersekian detik lalu turun mengikuti alur ombak. Saat meluncur dan menyentuh perairan, bunyi keras keluar dari dasar perahu. Bunyinya sangat keras. Perahu kembali lagi naik ke atas gulungan ombak. Lalu turun lagi dengan cepat. Begitu terus kejadiannya secara berulang-ulang.

Saya dan yang lainnya ketakutan. Hanya paman dan Kiki yang terlihat tenang. Sesekali mereka mengatakan untuk tenang, tapi percuma mereka melakukan itu. Ombak seakan mempermainkan kami. Kadang di atas, kadang di bawah. Lalu bergoncang ke kanan dan kiri sampai-sampai perahu miring seperti akan terbalik. Saya benar-benar panik. Meski begitu, saya berusaha tenang. Mencoba melawan gerak perahu. Jika perahu terlalu miring ke kanan, saya mencodongkan badan ke arah kiri. Begitu juga sebaliknya. Saya tidak melakukan itu sendiri. Ibo, Andi dan Ridel juga melakukan gerakan yang sama. Kami yang ketakuan saat itu bekerja sama tanpa diperintah. Hanya insting ingin hidup yang menggerakkan kami waktu itu.

Di bagian belakang, paman memainkan tuas mesinnya. Saat perahu di atas ombak yang tinggi, paman membiarkan perahunya dibawa ombak. Ia tidak perlu menggerakkan tuas gas untuk membuat perahunya semakin laju. Hanya dengan dorongan ombak, perahu itu sudah meluncur cepat. Sedangkan di ujung perahu, Kiki duduk tenang memperhatikan arah depan.

Detik berubah hingga beberapa menit, momen yang menakutkan itu akhirnya reda. Ombak sudah tidak besar seperti di bagian tengah tadi. Namun sisa kejadian itu masih menggetarkan Saya. Bunyi jantung saya berdegup kencang sampai terasa di dada. 

Perahu paman mengarah ke desa Tumbak, Saya pikir kami akan balik ke desa itu. Ternyata tidak, paman membelokkannya menuju ke sebuah pulau. Kata Ridel, pulau itu bernama Pulau Tumbak.
Laju perahu semakin lama semakin lambat. Paman mengarahkannya ke tepian dermaga. Kiki melompat keluar lalu mengikat tali ke dermaga agar perahu tidak pergi terlalu jauh. Setelah aman, kami keluar satu persatu mengikuti Kiki. Hanya tinggal paman seorang yang di perahu.

Dari dermaga langkah kami menanjak mengikuti kontur tanah. Pepohonan menghiasi jalur yang kami jalani. Pemandangannya mirip dengan lirik lagu anak-anak yang pernah Saya dengar. Namun itu bukanlah pohon cemara. Saya tidak tahu nama pohon itu, yang saya tahu pepohonan itu terlihat rapih berderet. Seperti ada tangan yang ikut campur dalam menanamnya.

Jejeran pepeohonan di Pulau Tumbak
Sesampainya di puncak, ada makam yang menyambut kami. Bentuknya bertingkat dengan 4 anak tangga yang dilapisi porselen. Pada salah satu bagiannya tertulis nama seseorang dalam aksara Arab. Kiki bilang, pemilik makam tersebut adalah Syeikh Abu Sahmad Baddar. Yaitu orang yang dianggap sepuh oleh masyarakat desa Tumbak.

Makam Syeikh Abu Sahmad Baddar
Saya duduk melihat-melihat pemandangan dari ketinggian, Lagi-lagi, hamparan laut biru tersaji dengan apik. Kali ini Pulau Baling-baling terlihat di kejauhan. Lebih jauh lagi Pulau Ponteng tampak samar seperti tertutup kabut. Sebenarnya, Pulau Ponteng masuk dalam kunjugan rencana awal kami. Namun rencana itu gagal. Deras dan tingginya ombak menjadi pertimbangan. Paman juga tidak mau mengambil resiko. “Terlalu berbahaya,” katanya. Sementara Pulau Bohanga terlihat di sisi yang berlainan. Pulau itu terbilang mungil  mungkin seukuran 2 kali lapangan basket. Di atas pulau itu, berdiri sebuah bangunan yang berfungsi sebagai penginapan.


Baru beberapa menikmati keindahan, kegaduhan terjadi. Ridel terlihat memeriksa isi kantongnya. Matanya berputar mencari sesuatu. Saya bingung apa yang dicari Ridel. “kunci mobil hilang,” katanya. Saya ikut panik. Bagaimana nanti Saya pulang. Setahu Saya, saat di desa Tumbak tadi, tidak ada kendaraan lain selain mobil kami. 

Kepanikan Ridel menular ke yang lainnya. Semua ikut mencari atau menerka. “Jangan-jangan jatuh di Pulau Baling-baling,” kata seseorang di antara kami. Jika begitu, saya tidak mau balik ke Pulau Baling-baling. Ombaknya masih terlalu besar. Saya yakin Ibo atau Andi juga sependapat. Labih baik kami menginap dulu di rumah paman sampai kunci cadangan berhasil di datangkan. Pikir saya saat itu.

Ridel berjalan cepat menuruni bukit. Saya dan yang lain mengikutinya. Berharap dengan menyusuri jalan setapak saat naik, kunci mobil yang dimaksud ketemu. Namun harapan itu sirna, kunci yang diidamkan tidak kunjung didapat. Pasrah, kami balik ke rumah paman di desa Tumbak.

Ibo bergaya dengan kebanggan Garuda di dadaku
Pulau Bohanga tampak di kejauhan
Pulau Tumbak dari jauh

About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

31 komentar:

  1. Balasan
    1. Memang indah. Makasih sudah berkunjung

      Hapus
  2. Wah Bagus sekali Pulaunya. Tampak belum tersentuh tangan-tangan pengunjung. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepat sekali bang, emang masih sepi daerah sana

      Hapus
    2. banyak binatang liar ga kang? atau binatang buar gitu yang berbahaya

      Hapus
    3. Gak ada bang, cm ombaknya waktu saya ke sana lg liar hehee

      Hapus
  3. iiiiiihhhh, cantik bingiit >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang cantik bingitttsss tempatnya :D

      Hapus
  4. Aku mau nginep di rumah panggung pulau bohanga. Kayak nya lucu mesra2an disana :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. lucu dan penuh romantisme banget om cumi di sana cm kalo angin lagi kenceng, momen lucu bisa berubah jd menyeramkan hehee

      Hapus
    2. Kalo sampai menyeramkan, kagak jadi dech hahaha
      Nginep kalo ama pasangan selingkuh pasti seruuuuuu #Melipir

      Hapus
    3. Kalo sampai menyeramkan, kagak jadi dech hahaha
      Nginep kalo ama pasangan selingkuh pasti seruuuuuu #Melipir

      Hapus
    4. selingkuhan katanya emang paling seru da paling indah :D

      Hapus
  5. Bagus banget pemandangannya.. Kayaknya aku bakalan betah deh walau sekedar liat-liat doank.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti betah banget di sana, dijamin

      Hapus
  6. Pemandangannya bagus, bro! Perjalanan kalian juga kedengarannya seru ya, ehehe. Ditunggu kelanjutannya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih bro sudah mampir ke sini, emang keren pemandangan di sana

      Hapus
  7. pemadangannya bagus banget. Trus cerita tentang kunci mobilnya gimana? Maish belum ketemu juga?

    BalasHapus
  8. Hallooo, Kak Rachmat. Ada info jalan-jalan gratis, nih.

    Kesempatan untuk ikut ekspedisi Kalimantan bersama New Daihatsu Terios #Terios7Wonders.

    Dimulai dari Palangkaraya, Kruing, Pulau Kaget & Kandangan, Amuntai & Balikpapan, Samarinda, Tn. Kutai dan berakhir dengan melihat cantiknya pulau Surga, Maratua.

    Caranya, ikutan lomba blog "Borneo Wild Adventure"
    Untuk info lebih lengkapnya,

    http://bit.ly/terios7wonders2015
    Ada Grand Prize MacBook Pro juga, lho!

    Ayo ikutan, Kak! Jangan sampai ketinggalan, ya!

    BalasHapus
  9. Keren bro rahmat....pengen pake banget kesana...Ada cp yg punya perahu atau cottage nya kah bro?

    BalasHapus
  10. Keren bro rahmat....pengen pake banget kesana...Ada cp yg punya perahu atau cottage nya kah bro?

    BalasHapus
  11. Keren bro rahmat....pengen pake banget kesana...Ada cp yg punya perahu atau cottage nya kah bro?

    BalasHapus
  12. keren bro...kalo dijelasin detail mgkn ada yg minat datang bisa lgsg dapat infonya ne...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih bro sudah mampir ke sini. penulisan saya memang menceritkan apa yg saya alami :)

      Hapus
  13. Pulau Bohanga mempesona...
    http://lombokwandertour.com

    BalasHapus
  14. gila, keren bener, udah pada tahu wisata jambi? yuk di lihat wisata jambi

    BalasHapus
  15. Wah lokasi tepatnya dimana nih mas? aksesnya sulit tidak untuk kesana?? sepertinya masih belum terjamah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Minahasa Tenggara mas. Dr Manado ke Desa Tumbak perjalanan sekira 2-3jam, lalu nyebrang ke pulau itu 10-15 menit. Aksesnya mudah kok mas. Waktu itu saya pakai jasa agen perjalanan dr Manado Fun Trip, bisa googling aja mas. Terima kasih sudah mampir ke blog saya

      Hapus
  16. bagus banget pemandangannyaaaa!!!

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    www.whateverbackpacker.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. agak kaget, blogger sepopuler bang Adis mampir ke blog ini.

      Sukses selalu kawan

      Hapus