Jalan Bareng Riky

Follow Me

Minggu Sore di Pasar Santa



By  rachmat fazhry     Minggu, Maret 15, 2015    Label: TripnFUn, Foto, Video,,,,,,, 
Lantai 2 Pasar Santa
"ihh.. Kok kayak gini sih ky tempatnya" keluh Rini di pelataran parkir Pasar Santa sore itu. 

Saat kami tiba tempat itu sudah penuh, bahkan, banyak pengendara mobil yang memarkir kendaraannya di luar gedung. Namun tidak dengan Saya, motor Saya berhasil mendapat tempat di bagian belakang, berhadapan dengan kios bunga dan kios bingkai yang sedang tidak beroperasi.

"ya namanya juga pasar santa Rin, ya kayak pasar" ucap saya menyela.

"Aku pikir kayak di Blok S" khayal Rini. Matanya memantau bangunan bertingkat tiga itu. Warnanya hijau muda dengan sedikit warna orange pada beberapa bagian. Pada salah satu ruas jalannya, terdapat anak tangga menuju ke dalam. 

"kalo gini, Aku keren sendirian nih" lanjutnya percaya diri dengan setelan sweater biru dipadu celana jins robek-robek dan hijab bewarna kuning keputihan.

"ye awas loh ya, kalo ada yang lebih keren dari kamu" ancam Saya sambil tersenyum. Wajah Rini cemberut, kesal dengan bangunan yang tidak sesuai dengan pikirannya.

Dari pelataran parkir, saya dan Rini masuk melalui tangga belakang. Kios-kios dilantai ini masih tampak seperti pasar kebanyakan. Namun, saat naik satu tingkat melalui tangga bercabang tiga, kios-kios bewarna cerah mulai mendominasi. Wajah Rini sumringah tersenyum.  Matanya berbinar ceria. Ia senang sekaligus malu.apa yang dikira sebelumnya tidak sepenuhnya benar.

"kamu gak bilang, kalo dalemnya kayak gini" ucap Rini tidak menyangka. Saya hanya tersenyum, membalas perkataannya.

Kami menyusuri lorong demi lorong lantai 2 pasar santa ketika itu. Pada bagian sisinya, kios-kios bewarna segar menarik mata kami. Desainnya unik dan beragam. Banyak diantara kios itu yang menjual aneka makanan dan minuman. Namun, ada juga kios yang menjual piringan hitam dan pakaian. Satu diantara yang paling menarik Rini adalah kios septong kue. Kios ini memilik desain seperti jendela dengan warna merah jambu yang lembut.

Kios Sepotong Kue
Kios-kios di sini berukuran kecil. Hanya cukup untuk menaruh barang dagangan dan menampung maksimal sekitar 4 sampai 6 pembeli. Ada juga yang agak besar. Namun, pemilik kios harus menggunakan dua kios lalu membobol batas temboknya agar menyatu dan lebih luas.

Kami terus menelusuri blok demi blok hingga sampai di area terbuka. Di tempat ini, meja dan kursi tersusun saling berhadapan dan diapit oleh beberapa kios. Pada salah satu bagian tengahnya, kios yang berhadapan dengan tangga lainnya terlihat paling menonjol. Di depan kios itu, orang-orang rela antri mengular demi black dog yang mereka jual. Rini penasaran dengan makanan yang pernah dilihatnya pada salah satu stasiun televisi nasional waktu itu. Namun niat untuk membeli black dog urung dilaksanakan. Antrian panjang dan saran yang Saya berikan menjadi pertimbangan. Saya katakan padanya "rasa black dog itu biasa aja cuma itemnya aja yang beda," lagipula Saya malas antri, masih banyak makanan lainnya yang bisa dicoba.

Kios yang menjual Black Dog paling ramai dikunjungi
Perjalanan terus dilanjutkan. Kami menyusuri tiap lorong dan sudut lantai itu. Pada salah satu sudut dekat toilet dan berhadapan dengan kios pakaian wanita, pria berkulit putih dan berambut coklat berdiri di dalam kiosnya yang bewarna biru. Wajahnya tampak lesu, matanya terus melihat orang-orang yang hilir mudik di depannya. Berharap, satu diantara mereka membeli burger dan hidangan meksiko yang dijualnya.

Pikiran Saya memutar melihatnya. Kios dan dagangan yang dijualnya tidak menarik. Meski ia bule, bukan berarti kiosnya akan ramai. Apalagi posisinya berada di pojokan, ia harus merubah konsep kios dan dagangannya agar lebih ramai dengan pembeli. 

Setelah beberapa menit, Rini belum juga memutuskan makanan yang ingin dicicipinya. Perut Saya sudah gelisah dan lapar. Padahal sudah banyak kios yang Saya tawarkan untuk berhenti. "tempatnya gak ada lebih enak lagi?" katanya, saat saya menawarkan kios yang menjual burito. Sebelumnya ia juga menolak kios yang menjual lontong medan di salah satu lorong. 

"kamu mau makan apa sih rin" ucap saya kesal padanya.

"kalo aku sih terserah kamu aja, kalo kamu duduk aku ikut" balasnya.

"lah tadi, pas aku mau makan burito, kamu gak mau" 

"siapa yang gak mau" Rini beralasan.

Saya menoleh ke arahnya "lah kan tadi kamu bilang, tempatnya gak ada yang lebih enak lagi nih? Muka kamu juga juga males gitu" nada Saya kesal bercampur lapar. Rini hanya terdiam. Kami terus jalan memutari tiap lorong.

"ya udah makan ini aja nih" kata Saya. Melirik kios yang menjual nasi goreng jawa dan cabe hijau sebagai menu pilihannya. 

****

Di sudut lainnya, musik lawas berimara keroncong mengalun dari sebuah radio disalah satu kios. Bentuk radio itu bergaya klasik. Mungkin sekitar tahun 50-an. Ditempatkan diatas lemari pendingin yang berfungsi sebagai tempat jamu. Di sebelahnya, terpajang logo yang menggunakan foto Nyonya Meneer sebagai andalan. Sedangkan di bawahnya logo ayam jago menempel menjadi pernghias.

Sesekali lelaki jangkung menggunakan kaca mata membuka lemari pendingin dan  menuangkan jamu ke sebuah gelas kecil, lalu diberikan kepada pelanggannya yang sudah menunggu. Jamu itu merupakan olahan dari tumbuhan temulawak yang berfungsi sebagai kesehatan. Tangan Rini mencolek Saya, "ky, liat deh botol jamunya" katanya. Mata Saya melihat yang dimaksud Rini, jamu itu disimpan dalam botol Absolut Vodka yang membuat Rini tersenyum kecil.

Rini mencicipi Ketan
Tak jarang, lelaki itu membuka kukusan yang berisi ketan dilapisi daun. Maklum, kios itu menjual ketan sebagai menu utamanya. Bahkan, nama kios tersebut adalah Ketan Pasar. 

Saya selalu senang dan bangga jika melihat seseorang menggunakan makanan nusantara sebagai barang jualannya. Terlebih, jika olahan nusantara dipadu dengan gaya kekinian. Hal tersebut yang dianut oleh kios Ketan Pasar. Meski dikepung oleh berbagai makanan alkuturasi dari luar, ketan pasar tetap menjadi pilihan yang memikat. Buktinya, Rini begitu semangat ingin mencicip. Katanya "Aku kan Indonesia banget"


Selagi membicarakan cita rasa ketan dan pengelolaan Pasar Santa. Pria berkacata mata lainnya yang bertubuh tambun ikut nimbrung, tertarik dengan topik pembicaraan kami. Ia bercerita mengenai harga sewa yang naik.

"dulu sebelum ramai kayak sekarang sewa cuma 3 juta per tahun, sekarang jadi 7 juta per tahun, nanti mau naik lagi jadi 12 juta per tahun" ungkapnya.

Saya sedih mendegar penjelasannya. Bagaiman nasib pedagang yang sebelumnya. Apakah mereka mampu?

Pria tambun itu melanjutkan, katanya, pengelolaan di Pasar Santa bukan dipegang oleh PD Pasar Jaya seperti yang tertera pada plang di depan pasar. Ada developer yang memegang peran dalam mengurusi sewa menyewa kios di Pasar Santa. Mendengar itu hati Saya mengucap, "kok bisa?, jadi selama ini bagaimana pengurusan yang sebenarnya?"

"Mending", Pria Tambun itu menyarankan, "Kalau mas mau buka usaha, di Pasar Blok S aja. Di sana katanya mau dibuka seperti di sini. Nanti Saya siap bantu" katanya iklas.


Menu di Kios Ketan Pasar

About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

4 komentar:

  1. Wuih.. tempat ini lagi jadi buah bibir nih.. Tapi saya belum kesana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok ke sana lah, icip2 makanan dan minumannya, kali aja bisa jd buah tangan buat orang tersayang :)

      Hapus
  2. Aku merasa gagal sebagai warga ibu kota coz ngak perna ke pasar santa. Eh sering sech kalo malam makan sate ajo ramon :-0

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah itu sih sate padang yang udah jadi legenda tuh Om cumi :D, aha gagal nih ye hahaa

      Hapus