Jalan Bareng Riky

Follow Me

Desa Tumbak Dalam Sehari: Dari Tiba Hingga Menggapai Pulau Baling-baling



By  rachmat fazhry     Senin, Maret 23, 2015    Label: TripnFUn, Foto, Video,,, 




“Jam berapa?” Tanya Ridel kepada saya

Mata saya melirik  ke arah jam tangan “jam sebelas.”.

“Kita tadi berangkat jam berapa ya?” lanjutnya.

Saya berpikir sebentar “kalau gak salah, jam setengah delapanan.” 

Ridel mengangguk “Tiga jam setengah kita jalan, biasanya empat jam baru sampai.” 

Perjalanan kami dari kota Manado memang terbilang cepat. Ridel membawa laju mobil dengan sangat kencang. Bahkan membuat Andi sampai menutup matanya dengan kain khas Suku Badui yang dibawanya. Ia hanya geleng-geleng ketika saya melihat keadaanya waktu itu.

Ridel mengajak saya ke rumah kepala desa. Ketika sampai, orang yang dimaksud sedang tidak di rumah. Kami hanya berhasil menemui seorang wanita setengah baya, mungkin itu istrinya, pikir saya saat itu. Ridel meminta kartu identitas saya lalu memberikannya kepada wanita setengah baya. Namun KTP Saya ditolak. Ibu itu bilang, “Tidak perlu kalau cuma sehari.” Ya begitulah aturan dalam mengunjugi desa Tumbak. Desa ini memang sudah memiliki nama di beberapa kalangan pejalan, khususnya dari luar negeri. Biasanya mereka menginap di salah satu pulau yang memilki penginapan di atas air. Begitulah cerita Ridel kepada Saya.


Dari situ, langkah kami berlanjut ke rumah lainnya di desa Tumbak. Tampak lelaki tua dan anaknya sudah menanti kedatangan kami dari dalam. Paman--kami memanggil lelaki tua itu--dan Kiki anaknya akan memandu kami saat mengunjungi beberapa pulau di desa Tumbak. 

Malam sebelumnya, Saya telah diberitahu oleh agen perjalanan. Ia bilang, cuaca di desa Tumbak cukup aman untuk menyebrang. Saya percaya omongannya. Lagipula siang itu matahari bersinar dengan ramah.

Menggapai Pulau Baling-baling

Langkah saya berjalan di dermaga kayu siang itu. Tampak beberapa pijakannya sudah ada yang bolong. saya harus berhati-hati. Salah langkah, kaki Saya bisa terjebur ke dalam air. Suara denyit juga terdengar jelas ketika kaki saya melintas. Panjang dermaga itu tidak seberapa, mungkin hanya sekitar 10 meter. Letaknya berada di belakang rumah. Milik para nelayan desa Tumbak, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Dari sini, Pulau Baling-baling tampak di kejauhan.

Tali yang mengikat pada perahu saya tarik. Perahu pun mendekat, membuat langkah Saya dengan mudah tiba di atas perahu. "Tadinya kita mau naik perahu no problem," kata Ridel pemandu saya. Namun rencana itu urung dilaksanakan. Peralatan yang di bawa Andi menjadi pertimbangan. Ia takut dengan air laut yang bergejolak bisa merusak peralatan.

Bentuk kapal no problem sangat kecil. Mungkin seperti sampan yang diberi mesin. Antara tepian perahu dan permukaan air sangat dekat. Warnanya di cat orange. Beda dengan perahu yang saya tumpangi. Warnanya putih di bagian luar dan biru pada bagian dalamnya. Mungkin berkapasitas mencapai 10 orang. Cukup untuk mengangkut Saya, Ibo, Andi ditambah Ridel, Kiki dan ayahnya. 

Perahu bergerak perlahan. Kiki berada di bagian ujung depan perahu. Memberi navigasi pada ayahnya yang bertugas di belakang. Setelah berada di perairan yang cukup dalam, mesin kapal akhirnya dinyalakan.

Cuaca saat itu panas. Angin bergerak bebas ciri khas laut. Gulungan ombak tak segan menerpa bagian depan perahu. Membasahi bagian dalam termasuk pakaian yang saya kenakan. Gelombang ombak terus menerjang perhau. Semakin ke tengah, gempuran yang di dapat semakin kencang. Kadang perahu berada di atas ombak lalu turun dengan cepat. Melahirkan bunyi yang keras dari dasar perahu. Ibo panik. Ia meminta jaket pelampung. Sadar akan dirinya yang tidak bisa berenang.

"Gak apa-apa, tenang aja," kata paman. Kata-kata itu tidak ampuh. Ombak terlalu menyita perhatian saya untuk waspada. Begitu juga dengan Ibo yang duduk bersebelahan dengan saya. Tangannya erat memegang tepi perahu. Raut wajahnya begitu tegang. Pandangan matanya gelisah. Berharap tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan ini.

Dari arah depan, bentuk pulau yang menjulang bak bukit semakin terlihat. Perahu semakin mendekat, hingga bersandar di tepi pantai. "Ayo cepet nanti perahunya kandas," pinta paman sambil menahan perahu. Ombak terus mendorong perahu hingga ke tepian. Saya dan lainnya lompat berhamburan ke pantai. Setelah perahunya kosong dengan penumpang, Paman bergerak cepat. Mendorong perahunya kembali ke perairan. Sedangkan saya dan lainnya berjalan menyusuri pantai.

Pasir pantainya bewarna putih. Banyak kerikil karang yang terdampar. Itu membuat langkah Andi menjadi lambat. Alas kaki yang seharusnya menempel, tertinggal di atas kapal. Merasa kasihan, Saya pinjamkan sandal kepadanya.

Langkah Kiki berhenti. Di depannya, sudah menunggu bukit dengan konturnya miring. Permukaannya dirimbuni rerumputan bewarna hijau kekuning-kuningan. Ridel dan Ibo sudah lebih dulu menapakkan kaki, setelah itu Saya menyusul bersama Kiki dan Andi.

Pijakan demi pijakan berhasil saya lalui dengan mudah. Namun semakin tinggi, kemiringan dan tempat berpijak agak lebih sulit. Tubuh saya harus membungkuk. Memudahkan saat mendaki dan menjaga keseimbangan. Sesekali saya berpegangan pada rumput. Sesekali saya juga berhenti untuk menyaksikan panorama alam sekitar.  Namun itu hanya berlangsung sesaat. Saya sudah tidak sabar berada di puncak. Pemandangan yang sesungguhnya sudah menunggu di atas sana.
Nafas saya tersengal-sengal saat tiba di puncak. Anginnya terasa berhembus kencang. Memberi saya energi yang telah hilang saat mendaki tadi. Namun itu belum seberapa, lanskap yang terpampang menjadi obat penghilang lelah yang sesungguhnya.

Birunya laut membentang di hadapan saya. Terbagi menjadi dua warna. Biru tua di kejauhan dan biru muda di pesisir pantai. Karang tampak timbul di permukaan. Ombaknya berjalan sangat lambat.  Begitu pula dengan buih ombak di tepi pantai. Pergerakannya seakan tidak terlihat. Membeku diam di tempat. Lain lagi dengan garis pantai. Bentuknya terlihat setengah oval. Warna putihnya begitu memikat. Tidak jauh dari sana, paman dan perahunya terombang-ambing di atas ombak.

Kiki berjalan ke bagian ujung bukit. Saya mengikuti jejaknya. Jalannya menurun, sempit dan banyak kerikil. Kanan kirinya langsung jurang. Salah langkah saya pasti jatuh dan mati. Apalagi saat itu kaki saya tidak beralas apapun. Adrenalin Saya terpacu. Jantung berdebar lebih kencang. Pelan-pelan saya memilih langkah hingga sampai di penghujung. Begitu sampai saya berteriak kegirangan. Seakan menimati kebebasan yang diberikan oleh Pulau Baling-baling.

Saya nikmati momen itu beberapa saat. Menarik nafas panjang dalam-dalam, bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini.



Cerita selanjutnya: Digoyang ombak dan Pulau Tumbak 

About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

5 komentar:

  1. nice sea.. kayaknya nyebur langsung enak tuh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. @enak banget bang, warna air lautnya provokatif banget hehee

      Hapus
  2. Eh aku perna lho ke tompaso, ke musim music yg ada terompet gede nya. Tapi ngak sadar kalo ada laut yg kece ini. Bener ngak sech daerah nya sama ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda deah,klao yg laut pulau itu adanya di daerah tumbak, minahasa tenggara,kira2 4 ja m dr manado

      Hapus