Jalan Bareng Riky

Follow Me

Masih Terngiang Pulau Sangiang



By  rachmat fazhry     Selasa, Februari 03, 2015    Label: TripnFUn, Foto, Video,,, 


Bulan Mei 2014 Saya berkunjung ke Pulau Sangiang. Letaknya di Selat Sunda terapit Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Secara administratif masuk dalam kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten.

Selasa, 7 Mei 2014, pukul 9 malam. Saya bertemu dengan Bapak Abdul. Polisi hutan Pulau Sangiang. Perawakannya seperti orang Arab. Tinggi, hidung mancung dan besar. Kulitnya gelap. Saya minta penjelasan beliau tentang cara dan apa saja yang dibutuhkan. Ia menjelaskan secara rinci. Biaya, akomodasi sampai waktu yang tepat. Sepertinya Bapak Abdul sudah paham betul mekanisme ini.
Naik Perahu, Berangkat 
Pukul 9 pagi esoknya, Saya tiba di Pelabuhan Anyer. Pelabuhannya tidak terlalu besar tapi bersih. Tidak seperti Pelabuhan Muara Angke di Jakarta. Hitam pekat dan berminyak. Mungkin jika tercebur, kulit bisa mengelupas. Di salah satu sudut Pelabuhan Anyer terdapat bangunan. Sekilas terlihat tulisan Tentara Nasional Indonesia di plang bagian depan bangunan.

Bapak Abdul sudah tiba terlebih dahulu rupanya. “Mas Riky sini”, panggil bapak Abdul. “iya Pak,”  Saya menghampirinya ke perahu. Bentuk perahu tidak terlalu besar. Mungkin berkapasitas 15 orang. . Warna catnya biru. Pas sekali dengan air laut dan langit saat itu.
Sekitar pukul 10, Saya sampai di Pulau Sangiang. Barang-barang dibawa turun. Termasuk dua motor milik Bapak Abdul dan Kang Agus. Tempat Saya menginap berupa bangunan pos Polisi Hutan. Bersebelahan dengan pos TNI AL. Di dalamnya terdapat dua ruangan dan kamar mandi. Bagian depannya ada teras dan dapur di sisi samping. Kami istirahat sebentar dilanjutkan makan. Semua bahan yang di masak dibeli dari luar pulau. Saya makan dengan nasi, ayam goreng, tahu dan tempe sebagai lauknya. Ditambah dengan sambal sebagai pelengkap. Sumpah ini nikmat banget. 
Brrmmm... Jelajah pulau naik motor

Rombongan kami pergi ke arah timur pulau. Saya mendapat pinjaman motor jenis trail dari petugas TNI AL. Ateng duduk di bagian belakang. Sedangkan Bapak Abdul bersama Beki dan Kang Agus sendirian.
“Hayo loh Jul, Jatoh deh nih motor”, seru Ateng sambil tertawa.
“Tenang Teng, gue jago bawa nih motor, skor 8 lah buat gue.” Padahal Saya baru pertama kali mengendarai motor jenis ini.

“iya deh.” Ateng berat mengakui.

Sering kali Ateng menggoda tapi Saya tetap fokus. Kadang-kadang tertawa juga. Tidak tahan dengan tawa Ateng yang lucu. Nama asli Ateng sebenarnya adalah Adi. Namun karena posturnya yang mirip pelawak lawas, nama pemberian orang tuanya menjadi tidak terpakai lagi.

“Aduh,” Ateng berteriak kesekatian

Hati-hati Teng, lo udah kecil masih aja kepala lo mentok batang pohon.”.

“Ye sial lo.” Ateng jengkel sembari melanjutkan perjalanan.


Gulungan ombak secara konstan menampar bibir goa kelelawar. Sesuai namanya, kelelawar hilir mudik terbang di langit-langit goa. Kata Bapak Abdul, jika cuaca sedang pas atau ombak sedang tidak keras akan banyak hiu yang menunggu kelelawar jatuh untuk di makan. Namun saat itu tidak satu hiu pun yang muncul.

Lagi di depan Goa Kelelawar
Pukul 12. Saya berdiri di atas bukit. Berhadapan dengan Samudera lepas berada. Kanan dan kiri dibatasi dengan tebing-tebing. Ombak mengalir deras menghantam tebing itu. Saya tersenyum kecil menyaksikan panorama ini.

“Mas Riky, ayok turun.” Ajak Bapak Abul.

“Mau ngapain pak”

“Kita liat Goa Tungku, tuh goanya”. Tangan Bapak Abdul menunjuk mulut goa yang berada di bawah.
“siap pak”. balas saya cepat

Saya menuruni tebing dengan perlahan. Kemiringan mencapai 90 derajat.  Bantuan saat itu hanya berupa tali dan pijkan yang tepat. Meleset sedikit atau tangan Saya tidak kuat memegang tali pasti terjatuh dan mengalami luka yang cukup serius.

Goa Tungku hampir sama dengan Goa kelelawar. Bagian ujungnya ada lubang. Ombak masuk dari sana lalu terhempas ke mulut goa. Ada hiu dan kelelawarnya juga. Nama Tungku berasal dari alat pembakaran yang terbuat dari tanah liat. Karena bentuknya yang mirip (kata orang di sana) maka nama Goa ini dinamakan demikian.


Sebelum menuruni tebing foto dulu ah
Manjat menara, Terpukau, woww.....

Perjalanan dilanjutkan sekitar pukul 3 sore. Kali ini ke arah barat pulau. Saya melewati jembatan. Bentuknya melengkung. Di bawahnya terdapat aliran sungai. Sedangkan sisi kanan dan kiri sungai dirimbuni pepohonan bakau. Aku juga melihat landasan helikopter. Gue bilang sama Ateng. Pasti pulau ini berpotensi banget. Ateng menangguk tanda setuju.

Tujuan saat itu adalah menara pengawas TNI AL. Tingginya sekitar 30 meter. Letaknya berada di pojok kanan Pantai Batu Mandi. Saya harus menembus akar berduri dan menapaki tangga sebelum benar-benar sampai di depan menara.

Saya duluan ya”, kata Saya ke Ateng sambil memanjat tangga menara.

“sip, jangan kentut aja lo”. Katanya memperingati.

“tenang Teng, kentut gue beraroma vanilla, bagus buat pernafasan”.
“Pret…..”. Timpal Ateng

Saya berteriak sekencangnya-kencangnya saat tiba di puncak menara pengawas. Ateng menanggap Saya gila. Sumpah ini keren banget. Hampir keseluruhan Pulau Sangiang terlihat dengan jelas. Laut biru terbentang luas di hadapan Saya. Jajaran pepohonan yang hijau  membuat lanskap menjadi sejuk. Tebing-tebing sebagai peyangga pulau terlihat perkasa. Ombak seakan berjalan lambat. Saya sangat menikmatinya. Sumpah, Saya menikmati ini.


Pantai Batu Mandi dilihat dari atas memang mantab
Hembusan angin kadang membuat menara bergoyang. Tiba-tiba Saya mendengar suara gaduh. Ternyata Ateng sedang lompat-lompat. Saya langsung menoleh ke arahnya.

“ngapain lo teng?”,

“ngetes kekuatan menara, ternyata kuat”.

“sarap”.balas saya kesal ke Ateng

Saya lanjut menikmati lanskap. Garis pantai terlihat melengkung. Airnya terbagi dua. Biru muda di tepian dan biru tua di bagian tengah. Benar-benar memanjakan mata.

Tebing-tebing yang kokoh walau di hempas ombak yang kencang
Sinarnya bikin hati semeliwir

Pukul 5 sore. Bangunan berderet tersusun rapih di bagian belakang Pantai Batu Mandi. Mejanya terbuat dari marmer bewarna hitam dan kursi panjang yang saling berhadapan. Saya keluarkan Jul dari kantong celana. Jul adalah mainan lego yang Saya temukan terkapar di parkiran motor Summerecon Bekasi. Saya memang ingin menjadikan Jul sebagai objek foto saat pertama kali bertemu.
Saya tata Jul menghadap matahari tenggelam.  Warna jingga sangat dominan. Sinar matahari membuatnya menjadi siluet. Pantulan bayangan dari meja marmer menambah artistik. Tebing di sisi kanan melengkapi dekorasi. Sempurna, Saya berucap dalam hati.

Saya abadikan Ulil dalam lensa kamera. Saya tersenyum bahagia. Sumpah Saya sangat senang saat itu. Pemandangan ini sungguh memanjakan mata. Saya terhanyut dalam suasana. Ombak, angin, suara burung menyatu menghasilkan harmoni . Begitu damai dan menenangkan.


Foto yang Saya dedikasikan untuk istri di Pantai Batu Mandi, Pulau Sangiang


About rachmat fazhry

Menikmati bagian dari hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar