Jalan Bareng Riky

Follow Me
sumber foto indonesiakaya.com
Belitung memang sudah terkenal dengan pantai-pantainya yang mengagumkan, tapi ada satu objek wisata bukan pantai yang harus dikunjungi saat berada di sana. Museum Kata Andrea Hirata namanya. 

Andrea Hirata merupakan penulis sebuah novel yang berjudul Laskar Pelangi. Buku itu mendulang sukses di layar lebar Indonesia bahkan internasional. 

Banyak lho...., kekayaan Pulau Belitung yang diperkenalkan dalam film ini. Hal tersebut berdampak pada pariwsata di Pulau Belitung yang meningkat . 

Museum Kata Andrea Hirata sendiri, terletak di Jalan Raya Laskar Pelangi, No. 7, Gantong, Belitung Timur, cuma butuh sekitar 45 menit dari Tanjung Pandan, ibukota Belitung. Selain itu, para agen perjalanan juga sudah menjadikan museum ini sebagai Paket Tour Belitung, yang memudahkan kita untuk menuju Museum Kata.

Museum Sastra Satu – Satunya Di Indonesia

Museum ini berisi barang- barang yang memiliki nilai sejarah mungkin bisa ditemukan di beberapa tempat yang ada di Indonesia. Namun, Museum Kata Andrea Hirata yang ada di Kepulauan Belitung ini merupakan museum sastra pertama dan satu – satunya di Indonesia. Karena hingga kini belum ada museum sejenis yang dibangun lagi. 

Dari mulai masuk pintu gerbang, para pengunjung akan dimanjakan dengan warna – warni yang menyegarkan mata. Makin ke dalam, akan melewati lorong terbuka yang dikelilingi pohon pisang yang juga diberi hiasan tanpa merusak pohonnya. Berbagai tulisan inspirasi bisa ditemukan di setiap dinding – dinding yang ada pada Museum Kata Andrea Hirata ini. Pengalaman mengunjungi sebuah museum sastra tentu akan menjadi pengalaman baru dan unik yang bisa dirasakan para pengunjung ketika berada disini.

Untuk memasuki museum ini tidak memerlukan biaya masuk. Museum yang didirikan oleh Andrea Hirata ini diresmikan pada bulan November 2012. Waktu buka museum ini dari mulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 06.00 sore. 

Setelah puas melihat rangkaian kata yang menginspirasi. Ada ruangan – ruangan khusus yang bisa ditemukan disini. Nama – nama ruangan tersebut pun memiliki nama para tokoh yang ada dalam buku maupun film Laskar Pelangi. 

Ada ruangan yang bernama Lintang, Ikal, dan Mahar. Ruangan – ruangan ini juga mempunyai ciri khas sama seperti karakternya yang ada pada filmnya. Seperti karakter Mahar yang sangat senang dalam bidang seni, maka di ruangan ini ditampilkan sosok yang menjadi inspirasi Mahar.

Warung Kopi Kuli

Selain bisa melihat ruangan – ruangan yang pastinya penuh inspirasi di dalam museum ini. Para pengunjung juga bisa menikmati secangkir kopi yang berada di ruangan dapur Museum Andrea Hirata Belitung. 

Dapur ini juga biasa disebut dengan Warung Kopi Kuli. Disini, para pengunjung bisa menikmati suguhan kopi hangat yang nikmat. Setelah cukup bersantai dan mengelilingi setiap ruangan yang ada pada Museum Kata Andrea Hirata ini, para pengunjung bisa berburu souvenir Laskar Pelangi yang berupa CD dan barang lainnya disini. Pengunjung juga bisa menikmati ruangan membaca atau menulis yang disediakan. 

Selain itu, novel Laskar Pelangi pun bisa dibaca disini. Namun, novel tersebut tidak bisa dibawa pulang. Bonus yang bisa didapatkan saat para pengunjung mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata Belitung ini adalah keberadaan cerpen miliki Andrea Hirata yang belum pernah dipublikasikan dimanapun. Jika beruntung, kita bisa bertemu dengan salah satu maestro sastra Indonesia, Andrea Hirata yangkadang berada di museum ini untuk menyapa para pengunjung. Karena itu, bagi Anda yang memiliki rencana ke Pulau Belitung bisa membuat agenda khusus satu hari untuk mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata Belitung ini.



Pemandangan dari puncak Pulau Tumbak


Malam sebelumnya, agen perjalanan yang mengurusi perjalanan Saya ke desa Tumbak bilang, “cuaca di Tumbak masih aman,” katanya lewat whatsApp.

Setelah di dorong oleh paman, perahu kecil miliknya kembali masuk ke perairan. Ia pun loncat ke atas perahu dan duduk di belakang. Tali yang terbelit pada mesin perahu ditariknya dan “brrr…..” bunyi deru mesin menyala. Perlahan kami meninggalkan Pulau Baling-baling dengan bantuan angin dan dorongan ombak.

Di atas kapal, tubuh Ibo sudah terpasang dengan jaket pelampung bewarna orange. Sepertinya ia masih trauma dengan goncangan ombak saat menuju ke Pulau Baling-baling. Sedangkan saya, saya percaya dengan kemampuan paman. Ia berasal dari Makassar, darah Suku Bajo mengalir kuat di dalam diri paman. Saya tahu kalau Suku Bajo itu sangat pandai dalam melaut. Bahkan hidup orang Bajo banyak dihabiskan di laut daripada di darat. Kalau kata orang “Banyak pelaut handal dari Suku Bajo.” Ya benar atau tidaknya pernyataan itu, insting saya mengatakan, itu memang benar apa adanya. Suku Bajo adalah pelaut handal yang dimiliki nusantara.

Angin semakin deras mengalir, begitu juga dengan gulungan ombak. Pulau Baling-baling semakin jauh tertinggal. Di sebelahnya, terlihat Pulau Ponteng di kejauhan. Pulau itu memiliki bentuk seperti Pulau Baling-baling. Tinggi menjulang layaknya sebuah bukit. 

Perahu yang kami naiki tiba-tiba berada di atas ombak. Lalu meluncur dengan cepat. Semakin lama, perahu semakin tinggi di atas gulungan ombak. Mungkin ketinggiannya mencapai 3 meter atau lebih.  Kadang perahu di atas ombak dan diam untuk sepersekian detik lalu turun mengikuti alur ombak. Saat meluncur dan menyentuh perairan, bunyi keras keluar dari dasar perahu. Bunyinya sangat keras. Perahu kembali lagi naik ke atas gulungan ombak. Lalu turun lagi dengan cepat. Begitu terus kejadiannya secara berulang-ulang.
Ketika pulang kantor, Saya mampir ke Taman Ayodya yang terletak di daerah Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Gadis itu menghampiri Saya seketika. Ia penasaran dengan kamera Dslr yang Saya bawa. Momen itu Saya manfaatkan untuk mengabadikannya dirinya yang polos dan lucu. 







“Jam berapa?” Tanya Ridel kepada saya

Mata saya melirik  ke arah jam tangan “jam sebelas.”.

“Kita tadi berangkat jam berapa ya?” lanjutnya.

Saya berpikir sebentar “kalau gak salah, jam setengah delapanan.” 

Ridel mengangguk “Tiga jam setengah kita jalan, biasanya empat jam baru sampai.” 

Perjalanan kami dari kota Manado memang terbilang cepat. Ridel membawa laju mobil dengan sangat kencang. Bahkan membuat Andi sampai menutup matanya dengan kain khas Suku Badui yang dibawanya. Ia hanya geleng-geleng ketika saya melihat keadaanya waktu itu.

Ridel mengajak saya ke rumah kepala desa. Ketika sampai, orang yang dimaksud sedang tidak di rumah. Kami hanya berhasil menemui seorang wanita setengah baya, mungkin itu istrinya, pikir saya saat itu. Ridel meminta kartu identitas saya lalu memberikannya kepada wanita setengah baya. Namun KTP Saya ditolak. Ibu itu bilang, “Tidak perlu kalau cuma sehari.” Ya begitulah aturan dalam mengunjugi desa Tumbak. Desa ini memang sudah memiliki nama di beberapa kalangan pejalan, khususnya dari luar negeri. Biasanya mereka menginap di salah satu pulau yang memilki penginapan di atas air. Begitulah cerita Ridel kepada Saya.

Lantai 2 Pasar Santa
"ihh.. Kok kayak gini sih ky tempatnya" keluh Rini di pelataran parkir Pasar Santa sore itu. 

Saat kami tiba tempat itu sudah penuh, bahkan, banyak pengendara mobil yang memarkir kendaraannya di luar gedung. Namun tidak dengan Saya, motor Saya berhasil mendapat tempat di bagian belakang, berhadapan dengan kios bunga dan kios bingkai yang sedang tidak beroperasi.

"ya namanya juga pasar santa Rin, ya kayak pasar" ucap saya menyela.

"Aku pikir kayak di Blok S" khayal Rini. Matanya memantau bangunan bertingkat tiga itu. Warnanya hijau muda dengan sedikit warna orange pada beberapa bagian. Pada salah satu ruas jalannya, terdapat anak tangga menuju ke dalam. 

"kalo gini, Aku keren sendirian nih" lanjutnya percaya diri dengan setelan sweater biru dipadu celana jins robek-robek dan hijab bewarna kuning keputihan.

"ye awas loh ya, kalo ada yang lebih keren dari kamu" ancam Saya sambil tersenyum. Wajah Rini cemberut, kesal dengan bangunan yang tidak sesuai dengan pikirannya.

Dari pelataran parkir, saya dan Rini masuk melalui tangga belakang. Kios-kios dilantai ini masih tampak seperti pasar kebanyakan. Namun, saat naik satu tingkat melalui tangga bercabang tiga, kios-kios bewarna cerah mulai mendominasi. Wajah Rini sumringah tersenyum.  Matanya berbinar ceria. Ia senang sekaligus malu.apa yang dikira sebelumnya tidak sepenuhnya benar.

"kamu gak bilang, kalo dalemnya kayak gini" ucap Rini tidak menyangka. Saya hanya tersenyum, membalas perkataannya.