Namanya mengandung mitos memang. Bidadari, sosok wanita cantik yang tinggal di khayangan. Hanya ditambahkan teluk pada bagian depan namanya.
Saya
mengunjungi salah satu tempat bidadari mandi ketika mereka turun di
bumi, awal Mei 2017.
Di sana saya merasakan air yang sama. Air yang digunakan bidadari membasuh kulitnya yang putih nan halus. Begitu salah satu stigma mengenai bidadari yang beredar.
Di sana saya merasakan air yang sama. Air yang digunakan bidadari membasuh kulitnya yang putih nan halus. Begitu salah satu stigma mengenai bidadari yang beredar.
Tapi saya tidak percaya dengan cerita itu.
Padahal
warga setempat bercerita kepada saya, "Kata orang-orang dulu, bidadari
turun dari atas, mandinya di kolam itu," ungkap seorang ibu penjaga
warung di tepi Pantai Banyu Meneng, pantai yang bersebelahan dengan
Pantai Mbehi, lokasi Teluk Bidadari berada.
Teluk
Bidadari terdiri dari dua kolam. Letaknya berada di tepi tebing. Warna
airnya hijau. Menggoda tubuh saya untuk nyemplung. Apalagi pemandangannya, apik banget dengan lanskap lautan luas tak bertepi.
Ukurannya tak begitu besar. Paling 4 kali berenang gaya bebas, tangan sudah sampai ke ujungnya.
Tapi
soal kedalaman, bikin hati saya ciut waktu lihat pertama kali. Kayak
enggak ada ujungnya. Cuma pas sudah nyebur, ya elah, ngepas sama ujung
kepala saya. Sekadar info, kira-kira tinggi saya sekitar 167an lah.
Mencapai
Teluk Bidadari lumayan nguras tenaga. Saya harus nembus hutan, melewati
pantai selok, naik bukit, turun bukit, ketemu pantai mbehi, naik bukit
lagi, baru nyampe di teluk bidadari.
Alokasi waktu buat sampai ke lokasi, kira-kira 45 menitan dari pos awal. Itu belum termasuk perjalanan dari Kota Malang.
Kalau
dari kota Apel--sebutan Kota Malang--butuh waktu 3 jam-an buat sampe di pos awal. Jalanannya rusak parah saat persimpangan Pantai Balekambang, Pantai Sendang Biru dan Pantai
Kondang Merak.
Padahal arah Pantai Balekambang dan Pantai Sendang Biru jalannya halus mulus, gak tahu kenapa jalan yang mengarah ke Pantai Kondang Merak, kayak di anak tirikan. Kasihan nasibnya.
Padahal arah Pantai Balekambang dan Pantai Sendang Biru jalannya halus mulus, gak tahu kenapa jalan yang mengarah ke Pantai Kondang Merak, kayak di anak tirikan. Kasihan nasibnya.
Teluk
Bidadari masuk dalam kawasan hutan lindung. Jadi wajar saja kalau nanti
diminta uang Rp 100 ribu. Uang itu nantinya digunakan untuk pemandu yang
mengantar kita, kebersihan dan tiket masuk untuk 10 orang. Kalo 11
orang ya bayarnya lebih, kalau cuma bertiga, bayarnya tetap Rp 100
ribu.
Sebelum memulai
perjalanan, seorang pemandu akan memberi kita arahan. Dari jangan buang
sembarangan, sampah harus dibawa balik lagi ke titik awal hingga kalau
cape bilang. Tapi satu yang paling saya suka, yakni momen doa bersama.
Merasa religius sekali saya waktu itu.
![]() |
| Pantai Mbehi |
Jangan
harap ada tukang nasi uduk atau pecel yang gelar lapak di sana. Mending
bawa perbekalan sebanyak-banyaknya. Cuma jangan lupa, seperti arahan
dari pemandu sebelumnya, "jangan buang sampah sembarangan dan bawa balik
lagi sisa sampahnya."
Berdekatan
dengan Teluk Bidadari ada lubang yang tembus ke laut. Kalau ombak
besar, cipratan airnya akan menembus dari lubang itu. Suaranya
menggelegar kayak bunyi cerobong kereta api. Saran dari ibu penjual
warung yang saya temui, baiknya ke teluk bidadari datang pada pukul
09.00-12.00 WIB. Itu waktu yang pas, karena laut sedang sedang pasang. Nanti
air yang muncrat dari lubang bisa mengangkasa sampai 25 meter. Yang
paling menakjubkan, kata ibu itu ada pelangi usai airnya meninggi ke
langit. Epik banget...
![]() |
| Teluk Bidadari |
Cerita Sebelumnya
Di rumah paman, Ridel masuk dengan langkah kaki yang gusar, wajahnya kebingungan, matanya memutar mencari penghuni rumah.
Mendengar ada orang di depan, istri paman datang dari dapur. ia pun langusng dicecar Ridel dengan pertanyaan mengenai kunci mobil, namun sayang, jawaban dari istri paman tidak membuat Ridel senang.
Ridel terus mencari kunci mobil. Ia balikkan bantal yang menjadi pijakan empuk saat bersandar di kursi. Kadang, Ia harus jongkok bahkan merebahkan tubuh untuk mencari kunci mobil yang hilang. Namun tetap saja kunci mobil sewaaan itu tidak kunjung ketemu.
Dari arah dapur, anak laki paman yang lainnya datang. Ia pun tak luput disergap Ridel untuk menanyakan kunci yang hilang. lagi-lagi anak lelaki paman itu tidak tahu.
Tiba-tiba.... "ini..." kata anak laki paman itu, Saya tidak tau nama anak lelaki paman tersebut, namun yang Saya tahu pasti, ia memegang benda mengkilap dengan gerigi yang berfungsi menjadi pengaman sekaligus pembuka pintu mobil. Ridel senang tidak karuan, "bajingan kau", ucap Ridel spontan.
Kami yang melihat itu lega sekaligus senang. Saya tidak akan berakhir di desa Tumbak untuk menginap, bukan karena tidak mau, namun ada agenda yang harus diikuti. Namun jika ada kesempatan untuk bisa kembali ke Desa Tumbak, Saya pasti akan melakukannya. Desa ini memiki keindahan dan keramah-tamahan seperti desa lainnya di Indonesia yang pernah Saya kunjungi. Tidak salah memang jika orang asing menilai masyarakat kita adalah orang yang ramah, ini adalah budaya dan karakter bangsa, jangan sampai ini memudar, ini bisa menjadi kekuatan kita menjadi negara yang sama dengan negara maju. Setidaknya itu harapan Saya saat menulis ini
Semua heboh dengan penemuan kunci mobil. Tawa hadir meluapkan kegembiraan. Suasana tegang mencair seketika. Kadang, canda memang dibutuhkan untuk melumerkan ketegangan, namun keisengan yang dilakukan anak lelaki paman benar-benar membuat wajah Ridel lecek seperti baju kotor.
Tidak terasa waktu sudah mengarah ke angka 12. Ini waktunya jam makan siang, ternyata istri paman sudah menyiapkan sajian ikan cakalang sebagai menunya.
Saya tahu cakalang menjadi ciri khas dari Sulawesi utara hingga Gorontalo. Ikan ini begitu popular di kedua daerah tersebut, khususnya Bitung, di ujung utara Sulawesi Utara. Daerah itu telah menjadi penghasil ikang Cakalang terbesar untuk wilayah Sulut.
Bentuk ikan ini mungkin seperti ikan tuna, atau itu hanya perkiraan saya saja karena keduanya mirip atau hanya penamaannya saja yang beda, karena di Indonesia ataupun negara lainnya, memiliki bentuk yang sama belum tentu memilki nama yang sama.
Sebagai makanan penutup, kami disajikan...., makanan bertekstur kental, bewarna coklat dan menggunakan gula merah sebagai bahannya.
Menuju Pulau Bohanga
Kami berjalan ke belakang rumah paman untuk kedua kalinya. Di sana, perahu kecil bewarna biru sudah menanti kami kembali.
Sementara itu, angin laut belum juga meredup. Tiupannya membuat gelombang ombak bergolak. Tapi untung lah, perjalanan kali ini tidak separah menuju Pulau Tumbak.
Paman bilang, Pulau Tumbak dan Pulau Baling-Baling juga berfungsi sebagai benteng pertahanan menahan laju ombak yang besar.
Sekitar 10 menit, kami sampai di Pulau Bohanga. Pulau yang sudah Saya lihat saat berada di puncak Pulau Tumbak.
Pulau ini berukuran kecil, mungkin, sekitar dua kali lapangan voli. Itu hanya perkiraan Saya saja.
Di bagian depannya, ada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai penginapan.
Jika dilihat dari kejauhan, penginapan ini seakan mengapung di atas air.
Hanya ada dua kamar di bangunan tersebut. saya lupa berapa harga yang ditawarkan. Rasa senang sudah mengambil alih perasaan saya ketika itu.
"Byuurr..." Saya lompat ke air. Memang untuk berenang, kita hanya perlu melompat saja. Lanskap pulau ini adalah laut tanpa pembatas pantai. Sedangkan dibagian belakangnya, ditumbuhi dengan pepohonan bakau.
Airnya, alamak.... jernih. Biota lautnya masih terjaga. Apalagi jika kita berenang agak menjauh dari pulau. Karang-karangnya masih rapat.
Ridel cerita kepada Saya, jika dahulunya masyarakat di sini sempat menangkap ikan dengan menggunakan bom, yang membuat karang-karang di sini hancur. Namun berkat salah seorang yang peduli dengan lingkungan (saya lupa namanya) dan berhasil menyadarkan masyarakat di sini untuk lebih peduli dengan wilayahnya, membuat karang-karang di sini menjadi kembali hidup. Alhasil, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke desa mereka, untuk diantarkan ke pulau-pulau di sini dan menambah perekonomian masyarakat desa Tumbak.
Desa Tumbak=Tumbuhan Bakau
Perjalanan Saya di desa Tumbak, ditutup dengan memutari area pepohonan bakau.
Informasi dari Ridel, Tumbak adalah singkatan dari Tumbuhan bakau. Maklum lah. di desa ini tumbuhan rambat tersebut memang tumbuh subur mengelilingi desa.
Dengan mennggunakan perahu, kami menelusuri jalur air dengan sisi tumbuhan tumbak di bagian kanan dan kiri.
Kami juga melihat area pemakaman yang berada di sisi air. Paman bilang, jika ada warga Tumbak yang meninggal mereka akan dimakamkan di area tersebut dan diantar dengan menggunakan perahu. Ritual yang cukup unik bagi Saya.
Di rumah paman, Ridel masuk dengan langkah kaki yang gusar, wajahnya kebingungan, matanya memutar mencari penghuni rumah.
Mendengar ada orang di depan, istri paman datang dari dapur. ia pun langusng dicecar Ridel dengan pertanyaan mengenai kunci mobil, namun sayang, jawaban dari istri paman tidak membuat Ridel senang.
Ridel terus mencari kunci mobil. Ia balikkan bantal yang menjadi pijakan empuk saat bersandar di kursi. Kadang, Ia harus jongkok bahkan merebahkan tubuh untuk mencari kunci mobil yang hilang. Namun tetap saja kunci mobil sewaaan itu tidak kunjung ketemu.
Dari arah dapur, anak laki paman yang lainnya datang. Ia pun tak luput disergap Ridel untuk menanyakan kunci yang hilang. lagi-lagi anak lelaki paman itu tidak tahu.
Tiba-tiba.... "ini..." kata anak laki paman itu, Saya tidak tau nama anak lelaki paman tersebut, namun yang Saya tahu pasti, ia memegang benda mengkilap dengan gerigi yang berfungsi menjadi pengaman sekaligus pembuka pintu mobil. Ridel senang tidak karuan, "bajingan kau", ucap Ridel spontan.
Kami yang melihat itu lega sekaligus senang. Saya tidak akan berakhir di desa Tumbak untuk menginap, bukan karena tidak mau, namun ada agenda yang harus diikuti. Namun jika ada kesempatan untuk bisa kembali ke Desa Tumbak, Saya pasti akan melakukannya. Desa ini memiki keindahan dan keramah-tamahan seperti desa lainnya di Indonesia yang pernah Saya kunjungi. Tidak salah memang jika orang asing menilai masyarakat kita adalah orang yang ramah, ini adalah budaya dan karakter bangsa, jangan sampai ini memudar, ini bisa menjadi kekuatan kita menjadi negara yang sama dengan negara maju. Setidaknya itu harapan Saya saat menulis ini
Semua heboh dengan penemuan kunci mobil. Tawa hadir meluapkan kegembiraan. Suasana tegang mencair seketika. Kadang, canda memang dibutuhkan untuk melumerkan ketegangan, namun keisengan yang dilakukan anak lelaki paman benar-benar membuat wajah Ridel lecek seperti baju kotor.
Tidak terasa waktu sudah mengarah ke angka 12. Ini waktunya jam makan siang, ternyata istri paman sudah menyiapkan sajian ikan cakalang sebagai menunya.
Saya tahu cakalang menjadi ciri khas dari Sulawesi utara hingga Gorontalo. Ikan ini begitu popular di kedua daerah tersebut, khususnya Bitung, di ujung utara Sulawesi Utara. Daerah itu telah menjadi penghasil ikang Cakalang terbesar untuk wilayah Sulut.
Bentuk ikan ini mungkin seperti ikan tuna, atau itu hanya perkiraan saya saja karena keduanya mirip atau hanya penamaannya saja yang beda, karena di Indonesia ataupun negara lainnya, memiliki bentuk yang sama belum tentu memilki nama yang sama.
Sebagai makanan penutup, kami disajikan...., makanan bertekstur kental, bewarna coklat dan menggunakan gula merah sebagai bahannya.
Menuju Pulau Bohanga
Kami berjalan ke belakang rumah paman untuk kedua kalinya. Di sana, perahu kecil bewarna biru sudah menanti kami kembali.
Sementara itu, angin laut belum juga meredup. Tiupannya membuat gelombang ombak bergolak. Tapi untung lah, perjalanan kali ini tidak separah menuju Pulau Tumbak.
Paman bilang, Pulau Tumbak dan Pulau Baling-Baling juga berfungsi sebagai benteng pertahanan menahan laju ombak yang besar.
Sekitar 10 menit, kami sampai di Pulau Bohanga. Pulau yang sudah Saya lihat saat berada di puncak Pulau Tumbak.
Pulau ini berukuran kecil, mungkin, sekitar dua kali lapangan voli. Itu hanya perkiraan Saya saja.
Di bagian depannya, ada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai penginapan.
Jika dilihat dari kejauhan, penginapan ini seakan mengapung di atas air.
Hanya ada dua kamar di bangunan tersebut. saya lupa berapa harga yang ditawarkan. Rasa senang sudah mengambil alih perasaan saya ketika itu.
"Byuurr..." Saya lompat ke air. Memang untuk berenang, kita hanya perlu melompat saja. Lanskap pulau ini adalah laut tanpa pembatas pantai. Sedangkan dibagian belakangnya, ditumbuhi dengan pepohonan bakau.
Airnya, alamak.... jernih. Biota lautnya masih terjaga. Apalagi jika kita berenang agak menjauh dari pulau. Karang-karangnya masih rapat.
Ridel cerita kepada Saya, jika dahulunya masyarakat di sini sempat menangkap ikan dengan menggunakan bom, yang membuat karang-karang di sini hancur. Namun berkat salah seorang yang peduli dengan lingkungan (saya lupa namanya) dan berhasil menyadarkan masyarakat di sini untuk lebih peduli dengan wilayahnya, membuat karang-karang di sini menjadi kembali hidup. Alhasil, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke desa mereka, untuk diantarkan ke pulau-pulau di sini dan menambah perekonomian masyarakat desa Tumbak.
Desa Tumbak=Tumbuhan Bakau
Perjalanan Saya di desa Tumbak, ditutup dengan memutari area pepohonan bakau.
Informasi dari Ridel, Tumbak adalah singkatan dari Tumbuhan bakau. Maklum lah. di desa ini tumbuhan rambat tersebut memang tumbuh subur mengelilingi desa.
Dengan mennggunakan perahu, kami menelusuri jalur air dengan sisi tumbuhan tumbak di bagian kanan dan kiri.
Kami juga melihat area pemakaman yang berada di sisi air. Paman bilang, jika ada warga Tumbak yang meninggal mereka akan dimakamkan di area tersebut dan diantar dengan menggunakan perahu. Ritual yang cukup unik bagi Saya.
Belitung memang sudah terkenal
dengan pantai-pantainya yang mengagumkan, tapi ada satu objek wisata bukan
pantai yang harus dikunjungi saat berada di sana. Museum Kata Andrea Hirata
namanya.
Andrea Hirata merupakan penulis
sebuah novel yang berjudul Laskar Pelangi. Buku itu mendulang sukses di layar
lebar Indonesia bahkan internasional.
Banyak lho...., kekayaan Pulau
Belitung yang diperkenalkan dalam film ini. Hal tersebut berdampak pada pariwsata
di Pulau Belitung yang meningkat .
Museum Kata Andrea Hirata sendiri,
terletak di Jalan Raya Laskar Pelangi, No. 7, Gantong, Belitung Timur, cuma
butuh sekitar 45 menit dari Tanjung Pandan, ibukota Belitung. Selain itu, para
agen perjalanan juga sudah menjadikan museum ini sebagai Paket
Tour Belitung, yang memudahkan kita untuk menuju Museum Kata.
Museum Sastra Satu – Satunya Di
Indonesia
Museum
ini berisi barang- barang yang memiliki nilai sejarah mungkin bisa ditemukan di
beberapa tempat yang ada di Indonesia. Namun, Museum Kata Andrea Hirata yang
ada di Kepulauan Belitung ini merupakan museum sastra pertama dan satu –
satunya di Indonesia. Karena hingga kini belum ada museum sejenis yang dibangun
lagi.
Dari
mulai masuk pintu gerbang, para pengunjung akan dimanjakan dengan warna – warni
yang menyegarkan mata. Makin ke dalam, akan melewati lorong terbuka yang
dikelilingi pohon pisang yang juga diberi hiasan tanpa merusak pohonnya.
Berbagai tulisan inspirasi bisa ditemukan di setiap dinding – dinding yang ada
pada Museum Kata Andrea Hirata ini. Pengalaman mengunjungi sebuah museum sastra
tentu akan menjadi pengalaman baru dan unik yang bisa dirasakan para pengunjung
ketika berada disini.
Untuk
memasuki museum ini tidak memerlukan biaya masuk. Museum yang didirikan oleh
Andrea Hirata ini diresmikan pada bulan November 2012. Waktu buka museum ini
dari mulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 06.00 sore.
Setelah
puas melihat rangkaian kata yang menginspirasi. Ada ruangan – ruangan khusus
yang bisa ditemukan disini. Nama – nama ruangan tersebut pun memiliki nama para
tokoh yang ada dalam buku maupun film Laskar Pelangi.
Ada
ruangan yang bernama Lintang, Ikal, dan Mahar. Ruangan – ruangan ini juga
mempunyai ciri khas sama seperti karakternya yang ada pada filmnya. Seperti
karakter Mahar yang sangat senang dalam bidang seni, maka di ruangan ini
ditampilkan sosok yang menjadi inspirasi Mahar.
Warung
Kopi Kuli
Selain
bisa melihat ruangan – ruangan yang pastinya penuh inspirasi di dalam museum
ini. Para pengunjung juga bisa menikmati secangkir kopi yang berada di ruangan
dapur Museum Andrea Hirata Belitung.
Dapur
ini juga biasa disebut dengan Warung Kopi Kuli. Disini, para pengunjung bisa
menikmati suguhan kopi hangat yang nikmat. Setelah cukup bersantai dan
mengelilingi setiap ruangan yang ada pada Museum Kata Andrea Hirata ini, para
pengunjung bisa berburu souvenir Laskar Pelangi yang berupa CD dan barang
lainnya disini. Pengunjung juga bisa menikmati ruangan membaca atau
menulis yang disediakan.
Selain itu, novel
Laskar Pelangi pun bisa dibaca disini. Namun, novel tersebut tidak bisa dibawa
pulang. Bonus yang bisa didapatkan saat para pengunjung mengunjungi Museum Kata
Andrea Hirata Belitung ini adalah keberadaan cerpen miliki Andrea Hirata yang belum
pernah dipublikasikan dimanapun. Jika beruntung, kita bisa bertemu dengan salah
satu maestro sastra Indonesia, Andrea Hirata yangkadang berada di museum ini
untuk menyapa para pengunjung. Karena itu, bagi Anda yang memiliki rencana ke
Pulau Belitung bisa membuat agenda khusus satu hari untuk
mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata Belitung ini.
| Pemandangan dari puncak Pulau Tumbak |
Malam sebelumnya, agen
perjalanan yang mengurusi perjalanan Saya ke desa Tumbak bilang, “cuaca di
Tumbak masih aman,” katanya lewat whatsApp.
Setelah di dorong oleh paman, perahu kecil miliknya kembali
masuk ke perairan. Ia pun loncat ke atas perahu dan duduk di belakang. Tali
yang terbelit pada mesin perahu ditariknya dan “brrr…..” bunyi deru mesin
menyala. Perlahan kami meninggalkan Pulau Baling-baling dengan bantuan angin
dan dorongan ombak.
Di atas kapal, tubuh Ibo sudah terpasang dengan jaket
pelampung bewarna orange. Sepertinya ia masih trauma dengan goncangan ombak
saat menuju ke Pulau Baling-baling. Sedangkan saya, saya percaya dengan
kemampuan paman. Ia berasal dari Makassar, darah Suku Bajo mengalir
kuat di dalam diri paman. Saya tahu kalau Suku Bajo itu sangat pandai dalam
melaut. Bahkan hidup orang Bajo banyak dihabiskan di laut daripada di darat.
Kalau kata orang “Banyak pelaut handal dari Suku Bajo.” Ya benar atau tidaknya
pernyataan itu, insting saya mengatakan, itu memang benar apa adanya. Suku Bajo
adalah pelaut handal yang dimiliki nusantara.
Angin semakin deras mengalir, begitu juga dengan gulungan
ombak. Pulau Baling-baling semakin jauh tertinggal. Di sebelahnya, terlihat
Pulau Ponteng di kejauhan. Pulau itu memiliki bentuk seperti Pulau
Baling-baling. Tinggi menjulang layaknya sebuah bukit.
Perahu yang kami naiki tiba-tiba berada di atas ombak. Lalu
meluncur dengan cepat. Semakin lama, perahu semakin tinggi di atas gulungan
ombak. Mungkin ketinggiannya mencapai 3 meter atau lebih. Kadang perahu di atas ombak dan diam untuk
sepersekian detik lalu turun mengikuti alur ombak. Saat meluncur dan menyentuh
perairan, bunyi keras keluar dari dasar perahu. Bunyinya sangat keras. Perahu
kembali lagi naik ke atas gulungan ombak. Lalu turun lagi dengan cepat. Begitu
terus kejadiannya secara berulang-ulang.
“Jam berapa?” Tanya Ridel kepada saya
Mata saya melirik ke arah jam tangan “jam sebelas.”.
“Kita tadi berangkat jam berapa ya?” lanjutnya.
Saya berpikir sebentar “kalau gak salah, jam setengah delapanan.”
Ridel mengangguk “Tiga jam setengah kita jalan, biasanya empat jam baru sampai.”
Perjalanan kami dari kota Manado memang terbilang cepat. Ridel membawa laju mobil dengan sangat kencang. Bahkan membuat Andi sampai menutup matanya dengan kain khas Suku Badui yang dibawanya. Ia hanya geleng-geleng ketika saya melihat keadaanya waktu itu.
Ridel mengajak saya ke rumah kepala desa. Ketika sampai, orang yang dimaksud sedang tidak di rumah. Kami hanya berhasil menemui seorang wanita setengah baya, mungkin itu istrinya, pikir saya saat itu. Ridel meminta kartu identitas saya lalu memberikannya kepada wanita setengah baya. Namun KTP Saya ditolak. Ibu itu bilang, “Tidak perlu kalau cuma sehari.” Ya begitulah aturan dalam mengunjugi desa Tumbak. Desa ini memang sudah memiliki nama di beberapa kalangan pejalan, khususnya dari luar negeri. Biasanya mereka menginap di salah satu pulau yang memilki penginapan di atas air. Begitulah cerita Ridel kepada Saya.
Mata saya melirik ke arah jam tangan “jam sebelas.”.
“Kita tadi berangkat jam berapa ya?” lanjutnya.
Saya berpikir sebentar “kalau gak salah, jam setengah delapanan.”
Ridel mengangguk “Tiga jam setengah kita jalan, biasanya empat jam baru sampai.”
Perjalanan kami dari kota Manado memang terbilang cepat. Ridel membawa laju mobil dengan sangat kencang. Bahkan membuat Andi sampai menutup matanya dengan kain khas Suku Badui yang dibawanya. Ia hanya geleng-geleng ketika saya melihat keadaanya waktu itu.
Ridel mengajak saya ke rumah kepala desa. Ketika sampai, orang yang dimaksud sedang tidak di rumah. Kami hanya berhasil menemui seorang wanita setengah baya, mungkin itu istrinya, pikir saya saat itu. Ridel meminta kartu identitas saya lalu memberikannya kepada wanita setengah baya. Namun KTP Saya ditolak. Ibu itu bilang, “Tidak perlu kalau cuma sehari.” Ya begitulah aturan dalam mengunjugi desa Tumbak. Desa ini memang sudah memiliki nama di beberapa kalangan pejalan, khususnya dari luar negeri. Biasanya mereka menginap di salah satu pulau yang memilki penginapan di atas air. Begitulah cerita Ridel kepada Saya.
| Lantai 2 Pasar Santa |
Saat kami tiba tempat itu sudah penuh, bahkan, banyak
pengendara mobil yang memarkir kendaraannya di luar gedung. Namun tidak
dengan Saya, motor Saya berhasil mendapat tempat di bagian belakang,
berhadapan dengan kios bunga dan kios bingkai yang sedang tidak
beroperasi.
"ya namanya juga pasar santa Rin, ya kayak pasar" ucap saya menyela.
"Aku pikir kayak di Blok S" khayal Rini. Matanya memantau
bangunan bertingkat tiga itu. Warnanya hijau muda dengan sedikit warna
orange pada beberapa bagian. Pada salah satu ruas jalannya, terdapat
anak tangga menuju ke dalam.
"kalo gini, Aku keren sendirian nih" lanjutnya percaya diri
dengan setelan sweater biru dipadu celana jins robek-robek dan hijab
bewarna kuning keputihan.
"ye awas loh ya, kalo ada yang lebih keren dari kamu" ancam
Saya sambil tersenyum. Wajah Rini cemberut, kesal dengan bangunan yang
tidak sesuai dengan pikirannya.
Dari pelataran parkir, saya dan Rini masuk melalui tangga
belakang. Kios-kios dilantai ini masih tampak seperti pasar kebanyakan.
Namun, saat naik satu tingkat melalui tangga bercabang tiga, kios-kios
bewarna cerah mulai mendominasi. Wajah Rini sumringah tersenyum.
Matanya berbinar ceria. Ia senang sekaligus malu.apa yang dikira
sebelumnya tidak sepenuhnya benar.
"kamu gak bilang, kalo dalemnya kayak gini" ucap Rini tidak menyangka. Saya hanya tersenyum, membalas perkataannya.
| Terompet Raksasa di Institut Seni Budaya Sulawesi Utara |
Mobil kami menepi di Kawangkoan, kota kecil berhawa sejuk diantara Tompaso dan Tomohon. Ridel lapar rupanya. Ia membeli beberapa biapong dari sebuah kedai. Menurutnya, biapong dari kedai tersebut merupakan yang terlezat di Sulawesi Utara. Orang Manado juga mengakuinya.
Saya
lebih mengenal biapong dengan sebutan bakpau ketika di Jakarta. Roti berisi daging,
bewarna putih dan berbentuk bulat itu merupakan peningalan orang
Tiongkok saat hijrah ke Batavia kala itu.
| Biapong kawangkoan terkenal paling lezat seantero Sulawesi Utara |
Perjalanan terus dilanjutkan hingga melewati sebuah restoran dengan
patung sate kolombi sebagai penanda. Di sana, Saya pernah mencicipi
paniki. Olahan yang dibuat dari daging kelelawar dicampur dengan
rempah. Bentuknya seperti hati ampela ayam yang biasa Saya makan di
warung tegal. Namun beda dengan paniki, makanan itu tidak berhasil
melewati tenggorokan Saya. Sebaliknya, Andi malah terlihat lahap
dengan hidangan saat itu.
Tak berselang lama, kami sudah tiba di Tompaso. Daerah ini memiliki
pacuan kuda sebagai andalan. Letaknya berada di tepi jalan utama.
Kata Om Ance, juru mudi Saya sebelumnya, Kuda-kuda dari daerah Tompaso memiliki lari yang cepat. Bahkan Prabowo, mantan Komandan
Jendral Kopassus juga memiliki kuda Tompaso sebagai piaraaan. Selain itu, Tompaso juga dikenal sebagai daerah sejarah. Di sinilah pembagian
wilayah Suku Minahasa dibentuk. Watu Pinawetengan namanya atau Batu
Pembagian.
Perjalanan Saya ketika menuju Watu Pinawetengan, dibumbui dengan cerita mistis dari Om Ance. Dia bilang, mobil yang kami tumpangi tidak kuat menanjak. Padahal mobil ini baru saja diservis dan lancar-lancar saja ketika melaju di jalanan tanjakan lainnya. Saya sih tidak percaya dengan ceritanya. Logika Saya bermain. Wajar saja mobil terasa lebih berat saat menanjak. Toh kontur tanjakannya berbeda, agak lebih menukik dan Om Ance
| Saya, Andi, Om Ance dan Ibo di tepi Danau Linow |
Di depan Saya, lelaki itu berjalan pelan menatap ragu. Wajah dan matanya masih sayu. Rambut dan pakaianannya berantakan sisa tidur semalam. Sepertinya ia kurang tidur, pikir Saya saat itu. Umurnya sekitar 30-an. Jemarinya sesekali bermain di layar ponsel selular
"Ridel?"
Ia mengangguk. "Saya Riky," sambil menjabat tangannya.
Ketika kami sudah bersiap, lelaki muda datang dengan mobil sejenis avanza. Ia keluar dengan cepat lalu menghampiri Ridel. Mereka terlibat obrolan serius. Entah apa yang mereka bicarakan. Dari trotoar tempat Saya berdiri, suara mereka tidak terlalu terdengar. Padahal jarak kami tidak terlalu jauh. Hanya beberapa meter Saja.
Obrolan mereka terlihat segera berakhir, benar saja. Pemuda itu menghampiri dan membawa tas Saya lalu memasukkannya ke dalam mobil bagian belakang. Saya ikut masuk tanpa bertanya dan memilih duduk di kursi depan bagian kiri. Begitu juga dengan Andi dan Ibo. Mereka duduk di kursi tengah seperti biasa.
Kejadian di depan hotel masih menempel dalam pikiran Saya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ridel tidak ikut dengan kami? Rasa itu klimaks menjadi sebuah pertanyaan bagi si pemuda sekaligus juru mudi kami. "gak apa-apa, tadi ada kesalahan aja." jawaban itu tidak membuat Saya puas. Saya bertanya lagi mengenai Ridel. "Saya Ridel." jawabnya. Ia mengeluarkan KTP sebagai tanda bukti. Ucapannya tidak bohong. Nama Ridel dan foto yang menempel, serupa dengannya. Sedangkan pria tadi adalah pemandu pengganti bila Ridel tidak datang.
Ridel bertubuh tegap dan memiliki potongan rambut yang tipis di sisinya. Tingginya melebihi Saya, mungkin sekitar 170 cm. Ia mengawali cerita dengan bermalam di Batu Putih. Tamu bulenya memaksa dia untuk tidur sebelum melanjutkan perjalanan. Lagi pula, hari sudah sangat gelap saat itu.
Saat saya menulis ini, Saya teringat dengah darah Minang yang dimiliki istri Saya. Mereka, orang Minang sangat hebat berurusan dengan rantau-meranatau. Buktinya sederhana. Rumah makan padang. Mengapa bisa? coba saja lihat atau tanya orang-orang di daerah kalian masing-masing, pasti rumah makan orang Minang selalu hadir menjadi pilihan pengisi perut. Begitu hebatnya tradisi merantau mereka. Bahkan salah satu sinesas pernah membuat film dengan 'merantau' sebagai judulnya. Dalam film laga itu, budaya merantau diperlihatkan telah menakar dalam orang Minang. Mungkin budaya merantau orang Minang hanya bisa disaingi oleh Suku Bugis, suku lainnya di nusantara.
Merantau dalam orang Minang dilakukan demi mendapatkan hidup yang lebih layak dari tanah airnya. Namun Saya melihat dalam sisi yang berbeda. Dari tradisi merantau mereka, orang Minang memiliki pengalaman-pengalaman baru selama mereka merantau. Mereka dapat meilhat tempat baru, budaya baru, masalah baru hingga kenalan baru. Di sanalah mereka di uji coba , mengasah mental mereka dalam perantauan.
Latar budaya mereka menjadi salah satu penggerak Saya dalam melakukan perjalanan. Meski dalam konteks yang berbeda, dalam satu sisi, Saya mendapatkan hal yang sama dengan mereka yaitu sesuatu yang baru. Dari situlah Saya akan belajar mendapatkan pengalaman baru, budaya baru, dan bagaimana mengatasi masalah.
Jalan-jalan bagi Saya sama halnya dengan melakukan merantau. Walau tidak menentap dalam waktu yang lama namun dalam perjalanan, Saya akan mendapatkan cerita-cerita yang bisa mengilhami. Dari situlah Saya membuat blog jalanbarengriky sebagai media untuk berbagi. Saya harap dengan tulisan dan foto Saya bisa memberi informasi dan mengilhami orang untuk melakukan perjalanan.
Di situlah Travel Bloggers Indonesia hadir sebagai jembatan. Dimana para blogger yang menjadi membernya dengan senang hati dan tulus memberikan watu mereka untuk berbagi lewat tulisan, foto dan video. Come, Home, Indonesia.
Website: http://travelbloggersindonesia.com/
Facebook: https://www.facebook.com/travelbloggersindonesia
Twitter: https://twitter.com/IDTravelBlogs
Merantau dalam orang Minang dilakukan demi mendapatkan hidup yang lebih layak dari tanah airnya. Namun Saya melihat dalam sisi yang berbeda. Dari tradisi merantau mereka, orang Minang memiliki pengalaman-pengalaman baru selama mereka merantau. Mereka dapat meilhat tempat baru, budaya baru, masalah baru hingga kenalan baru. Di sanalah mereka di uji coba , mengasah mental mereka dalam perantauan.
Latar budaya mereka menjadi salah satu penggerak Saya dalam melakukan perjalanan. Meski dalam konteks yang berbeda, dalam satu sisi, Saya mendapatkan hal yang sama dengan mereka yaitu sesuatu yang baru. Dari situlah Saya akan belajar mendapatkan pengalaman baru, budaya baru, dan bagaimana mengatasi masalah.
Jalan-jalan bagi Saya sama halnya dengan melakukan merantau. Walau tidak menentap dalam waktu yang lama namun dalam perjalanan, Saya akan mendapatkan cerita-cerita yang bisa mengilhami. Dari situlah Saya membuat blog jalanbarengriky sebagai media untuk berbagi. Saya harap dengan tulisan dan foto Saya bisa memberi informasi dan mengilhami orang untuk melakukan perjalanan.
Di situlah Travel Bloggers Indonesia hadir sebagai jembatan. Dimana para blogger yang menjadi membernya dengan senang hati dan tulus memberikan watu mereka untuk berbagi lewat tulisan, foto dan video. Come, Home, Indonesia.
Website: http://travelbloggersindonesia.com/
Facebook: https://www.facebook.com/travelbloggersindonesia
Twitter: https://twitter.com/IDTravelBlogs
Cerita Sebelumnya Bagian 1
"Ayok mang ke sebelah," ajak Saya pada Umang. Saya sudah tidak sabar ingin melihat Jakarta Gems Center (JGC) dari dalam. Kata orang-orang, dulu nama tempat menjual batu akik ini adalah Pasar Rawa Bening. Umang juga membenarkan perkataan Saya. Kata dia keadaan di daerah ini tidak seperti sekarang. Masih sepi dengan penjual. Itu 10 tahun yang lalu. "kalo sekarang, udah rame. penjualnya kadang sampe ke tepi jalan," tambahnya.
Saya masuk ke dalam gedung JGC dari pintu samping. Hal yang pertama Saya rasakan saat itu sejuk. Maklum lah, di dalam ruangan ini sudah diberi pendingin udara, beda dengan bangunan yang sebelumnya Saya masuki.
Keadaan di dalam JCG lebih ramai. Kios-kios berderet memenuhi setiap sudut ruangan lantai dasarnya. Pada isi dalam etalese kios tersebut memajang barang jualan yang sama. Yaitu batu akik. Semenetara itu, pada bagian tengah. Meja meneyrupai bentuk meja bundar sudah mengambil posisi. Di atasnya mengampar batu akik berbagai macam jenis. Orang-orang berkumpul di sana. Melihat-lihat batu, siapa tahu ada batu yang menjalin takdir dengannya.
Kunjugan Saya pada lantai dasar JGC tidak berlangsung sama, Umang mengajak Saya ke lantai 1. Dari lantai itu, Saya menuju Tasbih Scientific Gemological Laboratory Centre. Laboratory ini berguna untuk memberikan pelayanan bagi pecinta batu. Mereka para pecinta batu akik bisa mendapatkan informasi secara ilmiah batu akik yang dimiliknya. Selain itu mereka juga akan mendapatkan sertifikat yang terpercaya. Harga yang di tawarkan mulai dari Rp 150.000- Rp 350.000, untuk setiap sertifikat yang berbeda-beda. Hampir seperti itulah informasi dan penawaran yang Saya dapat dari brosur laborarium tersebut. Umang menambahkan bahwa jika menjadi member laboraturium tersebut akan mendapat diskon seperti yang dialaminya.
Saat itu di depan Gerbang Balai Yasa milik PT Kereta Api, Saya duduk di atas motor scoopy bewarna merah putih sedang menunggu teman. Sudah hampir setengah jam lamanya. Namun orang yang diharapkan tidak kunjung datang. Seharusnya, dari obrolan semalam di BBM kami janji bertemu pukul sebelas siang. Setelah beberapa kali lirikan ke spion motor, akhirnya Umang datang. Postur tubuhnya jangkung dan memiliki senyum yang ramah. Ia mengenakan kaos bewarna merah dilapisi dengan jaket tanpa lengan. Tidak seperti pakaian dinas yang biasa ia pakai. Katanya tidak enak kalau dilihat sekuriti.
"Ambil kanan aja, jangan ke stasiun," perintah Umang mengarahkan. Tidak jauh dari jembatan shelter trans jakarta Pasar Jatinegara, motor Saya belokan ke arah kiri, masuk ke jalan yang lebih kecil. Beberapa ratus meter dari situ, kios-kios berukuran kecil berjejer saling berhimpitan. Bunyi ketukan palu dan mesin pemoles batu terdengar saling bersahutan. Orang-orang berdiri di depannya, ada juga yang sekedar melihat-lihat sambil berlalu-lalang. Padahal kondisi jalan saat itu becek bercampur tanah bekas sisa hujan.
Semakin ke ujung, Saya memeperlambat laju motor. Jalan yang rusak dan banyaknya pengendara motor menjadi pertimbangan. Akhirnya Saya memarkirkan motor di salah satu sisi jalan. Berhimpitan dengan motor-motor lainnya yang telah dulu tiba. Pada bagian ujung jalan itu, terpampang nama Jl Bekasi Barat 1 dan tembus ke Jl Bekasi Barat. Dari tembusan jalan tersebut, stasiun Jatinegara telihat hanya beberapa ratus meter saja.
Eli dan Kepingan Batu
Bangunan itu tampak belum sepenuhnya selesai. Lapisan semen bewarna abu-abu masih menempel pada sisi dinding bangunan. Teksturnya juga masih kasar. Sedangkan pada bagian dalam gedung, orang-orang berjalan hilir mudik. Kepala mereka hampir serempak menunduk. Menatap batu-batu yang berserekan di atas meja. Kadang mereka berhenti, memegang dan melihat dengan seksama batu yang menjadi pilihannya.
Umang mengenalkan Saya pada wanita setengah baya. Eli namanya. Ia berbicara dengan logat sunda yang masih melekat. "Gue tinggal dulu ya, lo tanya-tanya aja," kata Umang lalu pergi.
Sepeninggal Umang, Saya memperhatikan kepingan batu yang terkumpul dalam beberapa baskom berisi air. Pada salah satu baskom, terdapat kepingan batu yang bercorak warna merah dan hijau tidak beraturan. Di sampingnya, batu bewarna hitam mengkilat menyapa rasa penasaran Saya. Kata Teh Eli, itu batu opal dari Banten. Sedangkan batu yang memiliki guratan bewarna-warni berasal dari Garut "namanya batu Pancawarna," kata teh Eli menjelaskan.
Bukan Saya saja yang tertarik dengan kepingan batu jualan Teh Eli. Orang-orang silih berganti menghampiri kiosnya. Jemari mereka mengaduk kepingan batu yang berada di dalam baskom. Lalu memandangnya dengan tajam. Kadang diantara mereka menggunakan senter untuk melihat kadar kristal yang terkandung dalam batu. Maklum saja, lapak teh Eli sangat strategis. Letaknya berada di depan pintu masuk. Tepat setelah anak tangga terakhir sebelum memasuki isi dalam gedung.
Teh Eli mendapatkan kepingan batu dari petani, begitu ia menyebut penambang batu. Sekali beli, teh Eli langsung membelinya dengan borongan. bisa puluhan kilo hingga beratus kilo Kadang ia harus menggunakan truk untuk mengankut kepingan batu langsung dari sumbernya. Terlintas pikiran Saya membayangkan bagaimana para penambang batu harus masuk ke dalam-dalam goa, memukul keras-keras dinding goa demi mencari batu untuk sebuah rupiah. Begitu beratnya hidup mereka.
Mata Saya beralih ke meja terjauh di kios milik teh Eli. Dari sana tampak kepingan batu sudah berubah bentuk menjadi lebih kecil dan lebih menarik. Sudah sempruna untuk dijadikan batu cincin. Bentuknya ada yang bulat lonjong, ada pula yang bulat sempurna. Begitu juga dengan warnanya. lebih kinclong dan bersinar. "biar pembeli bisa milih bentuk yang dia suka, kalo bentuknya gede semua atau kecil semua jadi susah jualnya," ujar teh Eli memberi tahu.
Saya merasa heran, biasanya setiap kios apapun jualannya pasti memiliki nama. Rasa tahu itulah yang Saya tanyakan pada teh Eli. Ternyata nama kiosnya adalah Ki Santang. Jawaban itu sekaligus menjawab mengapa banyak tinta hitam yang tercoret di baskom-baskom milik teh Eli.
***
Cerita Sebelumnya Pulau Moyo Saat Itu Bagian 1
Tali Kapal yang mengikat di dermaga sudah dilepaskan. Lalu kapal mulai kembali berlayar kembali. Tidak beberapa lama, Kapal kembali bersandar di dermaga. Pondasinya sudah terbuat dari beton. Saya jalan menyisir jalan utama. Terlihat rumah-rumahnya berderet saling berhimpitan di antara gang. Saya berhenti di sekolah dasar. Dimana tempat saya dan rombongan lain beristirahat dan tidur. Nama desa ini adalah Desa Labuan Aji.
Saya rebahkan kaki untuk sesaat. Mengistirahatkannya agar tidak keram. Setelah makan siang. Saya dibonceng warga lokal bergerak menuju destinasi wisata. Motor melaju di jalan datar untuk sesaat. Lalu menjadi tanjakan. Pepohonan kering menjadi pemandangan Saya ketika itu. Kadang pemandangan berupa pepohonan menghitam dan telah rata dengan tanah. Motor terus bergerak masuk ke dalam hutan lebih dalam hingga harus berhenti. Jalanan berupa tanah dan sempit menjadi penyebabnya. Dari situ Saya mulai melangkah menyusuri pedalaman hutan Pulau Moyo.
Suara air jatuh diselingi gelak tawa terdengar di kejauhan. Semakin lama semakin terdengar. Rupanya para pengendara sepeda sudah tiba lebih dulu. Saya melintas di jembatan yang terbuat dari batang pohon. Di bawahnya mengalir sungai. Airnya terlihat bening. Saya terus melangkah, menuruni batu demi batu sampai tiba di sebauh air terjun. Bagian bawah air terdapat kolam. Warnanya hijau, hampir senada dengan warna pepohonan di sekelilingnya. Mata Jitu, begitu nama air terjun ini.
Kata warga lokal yang memandu Saya, nama itu diberikan karena tempat jatuhnya air sangat tepat di bawah kolam. Jitu atau tepat sasaran, begitulah kira-kira cerita yang Saya dapat mengenai asal mula nama Air Terjun. Tapi ada juga Nama lain air terjun ini. Namanya Lady Water Fall. Seperti yang diceritakan seorang teman di Sumbawa waktu itu. Ia punya alasan mengapa disebut demikian. Saat itu Putri Diana atau Lady Diana pernah berkunjung ke Air terjun Mata Jitu bersama Pangeran Wililiam dan Pangeran Henry. Mulai dari situ nama Air terjun lebih dikenal dunia dan memilki penyebutan lain. Bentuk air terjun ini berundak-undak hingga sampai ke bawah. Namun pada air terjun utama, ketinggian jatuhnya air mencapai 5 meter. Itu perkiraan Saya waktu itu.
Saya teringat perjalanan ke Pulau Moyo November 2012 saat itu. Perjalanan yang melelahkan juga menyenangkan. Banyak hal baru serta pengalaman yang Saya dapatkan di perjalanan tersebut. Saya juga mendapatkan keindahan dan pengetahuan alam nusantara yang indah. Sampai saat menulis ini, Saya masih merasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan tuhan. Diberikan kepercayaan olehnya untuk mengenal Pulau Moyo lebih dekat dan berbagi cerita lewat tulisan ini.
Langit telah gelap saat itu. Tubuh Saya tergeletak di atas kasur Hotel Tambora, Sumbawa, NTB. Letaknya bersebelahan dengan kantor bupati. Ukurannya cukup luas jika dibandingkan dengan hotel-hotel lainnya di Sumbawa. Usia hotel mungkin sudah cukup tua. Terlihat dari pendingin udaranya. Sangat berisik dan berbentuk kotak. Seperti keluaran generasi lama. Tapi hembusannya cukup terasa. Mmembuat hati Saya senang.
Walaupun telah malam, udara di sini membuat gerah, apalagi saat berada di dalam kamar. Kata orang, tanah Sumbawa memiliki 9 matahari ketika siang. Itu bukan isapan jempol. Saya juga merasakannya ketika itu.
"Tok...tok....tok....," suara itu terdengar pelan. Sumbernya dari jendela. Saya buka tirai yang menghalangi. Terlihat seorang bocah dari balik kaca. Saya hanya memberinya acungan jempol. Ketika melihat itu, ia beranjak pergi dan Saya melanjutkan tidur kembali. "tok...tok...tok....," suara itu kembali terdengar , kali ini seorang pria jangkung yang terlihat. Dari bibirnya dia berbicara tanpa suara. Terlihat meminta Saya untuk segera bangun. Wajahnya terlihat serius, Saya pun bergegas. Bergerak cepat membereskan tas dan keluar dari kamar.
![]() |
| Memandang dari atas Pulau Baling-baling sangat menenangkan |
Tali yang mengikat pada perahu Saya tarik. Perahu pun mendekat, membuat langkah Saya dengan mudah tiba di atas perahu. "tadinya kita mau naik perahu no problem," kata Ridel pemandu Saya. Namun rencana itu urung dilaksanakan. Peralatan yang di bawa Andi menjadi pertimbangan. Ia takut dengan air laut yang bergejolak bisa merusak peralatan.
Bentuk kapal no problem sangat kecil. Mungkin seperti sampan yang diberi mesin. Antara tepian perahu dan permukaan air sangatlah dekat. Warnanya di cat orange. Beda dengan perahu yang Saya tumpangi. Warnanya putih di bagian luar dan biru pada bagian dalamnya. Mungkin berkapasitas mencapai 15 orang. Cukup untuk mengangkut Saya, Ibo, Andi. Ditambah Ridel, Kiki dan ayahnya. Meski begitu, air tetap berdekatan dengan perahu yang kami tumpangi.
Perahu bergerak perlahan. Di dorong dengan bambu yang diceburkan. Karang-karang masih tampak jelas di permukaan air. Kiki berada di bagian ujung depan perahu. Memberi navigasi pada ayahnya yang bertugas di belakang. Setelah berada di perairan yang cukup dalam, mesin kapal akhirnya dinyalakan.
Cuaca saat itu panas. Angin bergerak bebas ciri khas laut. Gulungan ombak tak segan menerpa bagian depan perahu. Membasahi bagian dalam termasuk pakaian yang Saya kenakan. Gelombang ombak terus menerjang perhau. Semakin ke tengah, gempuran yang di dapat semakin kencang. Kadang perahu berada di atas ombak lalu turun dengan cepat. Melahirkan bunyi yang keras dari dasar perahu. Ibo panik. Ia meminta jaket pelampung. Sadar akan dirinya yang tidak bisa berenang.
![]() |
| Anak-anak bercanda di jalan sempit Kampung Bandan |
Motor Saya paksakan bergerak. Membelah genangan air yang bewarna coklat pekat. Mobil di sisi kanan melaju dengan bebas. Melahirkan gelombang. Membuat motor saya agak goyah ketika terhantam. Jalan juga berlubang dan berkerikil. Kemudi motor Saya bergerak tidak sesuai dengan keinginan.
Pelan-pelan Saya mengambil lajur di sebelah kanan. Airnya tetap tinggi namun jalannya lebih rata dibandingkan lajur di sebelah kiri. Beberapa motor kehilangan lajunya. Raut wajah sang pemilik terlihat kesal. "jangan mati, jangan mati" ungkap Saya dalam hati. Berharap mesin motor Saya tetap kuat menghadapi ujiannya. Perlahan Saya mainkan gas agar tetap mampu berjalan. Di depan sana terlihat aspal yang menghitam. "Sedikit lagi sampai" Saya memberi semangat pada diri sendiri.
"ahh..." nafas Saya menghela nafas panjang. Tubuh yang tegang menjadi tenang. Perasaan juga menjadi lega. Genangan itu berhasil saya lalui. Motor saya gas melewati Mangga Dua square lalu berbelok ke kiri arah Tanjung Priuk. Pada putaran jalan, saya sempat berhenti.untuk bertanya. "ikutin jalan ini aja bang nanti adanya sebelah kanan", jelas tukang parkir putaran sambil menunjuk jalan.
![]() |
| Jul menatap mentari yang tenggelam |
Langkah Saya berjalan menyusuri pantai. Pandangan luas begitu tentram dan damai. Sunyi dan tenang. Walau saat itu ramai dengan pejalan namun alamnya terjaga dengan baik. Membuat pulau ini begitu terharmonisasi dengan alam yang utuh. Saya ingat perkaatan Pak Edi tentang jumlah wisatawan yang dibatasi. "Wisatawan cuma boleh 1500, itu juga sudah penuh banget", katanya.
Pasir pantainya bersih dan putih. Sangat lembut memanjakan kaki Saya. Hamparan pasir ini memanjang dengan konturnya yang landai. Pepohonan hijau dan lebat menjadi latar belakang pantai. Pada bagian depan , daratan Ujung Kulon menjadi panorama yang memikat. "jika dilihat dari peta, mungkin itu adalah daratan ujung Jawa bagian barat", pikir Saya saat itu.
Ombak bergerak tertiup angin. Wajah-wajah gembira berhamburan. Alam berinteraksi dengan manusia lewat caranya. Begitu juga dengan Saya. Tubuh Saya seakan terhipnotis dengan kolaborasi air laut yang bewarna biru muda dan biru tua. Saya serenang ke sana kemari. Kadang menyelam, kadang dipermukaan. Saya seperti bocah yang kegirangan saat itu.
![]() |
| Jul menikmati pasir yang putih dan bersih Pulau Peucang |
Babi-babi juga ikut meramaikan makan siang saat itu. Mereka menunggu, berharap diberi panganan oleh para pejalan. Kadang mereka mendekat namun geraknya dihentikan oleh awak kapal. "babinya jangan dikasih makan, nanti kebiasaan", teriak salah satu pemandu.
![]() |
| Keluarga kecil menggunakan balon untuk mempercantik foto mereka saat dipotret |
Langkah Saya keluar. Ini yang membedakan. Jika dulu terdapat petugas yang berdiri mengecek tiket dengan cara melubangi. Kini, teknologi telah mengambil alih. Hanya perlu menempelkan tiket berupa kartu, pintu akan terbuka otomatis. Hal ini juga yang membuat Agil antusias merasakan sensasi pintu elektonik.
![]() | |
| Dulu petugas yang mengurusi pintu masuk kini teknologi telah mengambil alih peran tersebut |
Saya keluar ke pintu sebelah kiri namun harus balik ke arah berlawanan. Ternyata Kawasan Kota Tua yang ingin Saya kunjungi berada di arah sebaliknya. Dari sini Saya ingin mengajak Agil mengenal Museum Mandiri. Namun hal yang pertama dia mau adalah makan. "Agil laper cik", pintanya pada Rini. Alhasil Saya harus mengajaknya makan terlebih dahulu. Pilihan Agil saat itu adalah soto ayam dari pedagang kaki lima. Namun Ia kecewa dengan rasa soto pilihannya."gak ada rasanya", keluhnya. Beruntung ketoprak pilihan Saya memiliki cita rasa yang cukup enak. Bumbu kacang dan rasa bawang putihnya pas.
Perut Sudah terisi, perjalanan kembali dilanjutkan. Rencana awal yang ingin mengenalkan Agil dengan Museum mandiri, Saya ubah. Daripada harus balik lagi ke jalan semula kenapa tidak masuk Saja ke Museum Wayang atau Museum Fatahillah, jaraknya toh lebih dekat. Pikir Saya saat itu. Namun rencana hanyalah tinggal wacana. Pintu Museum sudah tertutup. Saya baru ingat kalau museum tutup jam 4 sore. Padahal saat itu waktu hanya berselisih sedikit dari jam tutup.
Selalu ada rencana cadangan, kata orang-orang. Itu juga yang saya gunakan. Berbekal tongsis yang lagi eksis, Kami pun jalan di pelataran bekas gedung Gubernur Batavia kala itu. Agil pun keranjingan dengan mainan barunya. Telepon seluler istri dan tongsis tidak lepas dari genggamannya. jeprat sana jepret sini, dia bergaya layaknya model dan fotografer yang dia rangkap sendiri. Seperti terjangkit virus dari Agil Saya dan istri juga tidak mau kalah bernasis ria. Kadang, kami melakukannya bertiga.
![]() |
| Kena virus Agil jadinya narsis juga |
| Agil bersama Makciknya bergaya di Pelataran Kota Tua |
| Jul Menatap keindahan perairan Pulau Peucang, Banten |
Waktu termakan cukup lama, mungkin sekitar 4 jam sebelum tiba di Alfamart yang berhadapan langsung dengan Indomart, pesaingnya, di desa Sumur, Ujung Kulon. Ini merupakan petunjuk dari Bapak Edi lewat obrolan sebelumnya. Dari sini mobil melaju perlahan mencari penginapan dengan Sarang Badak sebagai namanya.
Sangat mudah menemukan penginapan itu, Alil yang bertugas membawa mobil mendapat bantuan dari seorang pria. Tangannya melambai, mengarahkan untuk memasuki area penginapan. Ternyata itu Bapak Edi, Tubuhnya gempal dan memakai kacamata. Ia telah menunggu kedatangan kami dari tadi.
Saat itu sudah dini hari. Pak Edi meminta Saya untuk tidur, "penyebarangan besok berangkat Pukul 07.00," mintanya dengan logat Sunda yang kental. Saya menuruti perkataanya, lagi pula badan juga sudah rindu dengan kasur.
Benar saja, Pukul 07.00 rombongan kami berangkat. Pak Edi menjadi pemimpin rombongan. Ada sekitar 20 orang lebih yang di bawahinya saat itu. Kami menuju Pelabuhan Sumur. Suasanya ramai. Banyak pedagang ikan dan pembeli. Kadang suara mereka saling beradu mempertahankan harga yang diinginkan.
Rombongan kami terpecah menjadi dua. Rombongan pertama yang dikomandai langsung oleh Pak Edi di isi dengan satu keluarga besar yang beranggotakan sekitar 15 orang. Sedangkan Saya dan teman-teman bergabung dengan sesama pejalan lainnya.
Kapal berukuran kecil mengantar Kami sebelum pindah ke kapal yang lebih besar. Hal itu harus dilakukan, karena Pelabuhan Sumur memiliki perairan yang dangkal. Dari sini Pulau Umang sudah terlihat namun itu bukanlah tujuan utama. Saya masih harus bersabar, menunggu kapal bergerak lebih jauh lagi ke arah barat.
| Jul diantara hamparan pasir yang luas di Pantai Bagedur |
Perjalanan ke daerah Malingping terpaksa dilakukan karena menurut GPS yang terpasang di bagian depan mobil, rute ini merupakan jalur yang terdekat dari Ujung Kulon menuju Desa Sawarna. Mau tidak mau Saya dan teman harus berhadapan dengan mutu jalan yang sangat buruk kualitasnya.
Setelah menjalani jalan yang buruk dan merasakan mabuk darat karena goncangan, hati saya sedikit terobati. Hamparan pasir hitam yang luas memanjang, dengan ciri khas angin laut yang kencang, membuat kenangan akan lubang jalan mulai sedikit terkikis. Pantai Bagedur namanya, yang berhasil mengobati rasa gundah Saya akan jalanan di daerah Malingping.
Pasir di pantai ini bertekstur padat. Bahkan mobil yang Saya tumpangi berhasil melintas dengan damai tanpa ada hambatan. Warnanya coklat agak menghitam, garis pantainya landai, memanjang jauh hingga berbatas dengan karang. Ombaknya keras melahirkan warna buih putih di tepiannya.
Pada bagian tepi terjauh pantai, berjejer warung-warung sedehana yang dibangun dengan bambu dan kayu. Atapnya menggunakan daun kelapa yang telah dikeringkan lalu dirajut. Saya masuk ke dalam satu warung itu. Penjualnya seorang ibu-ibu. Saya pun memesan kopi lalu meminta izin duduk pada kakek-kakek yang sedang sibuk menganyam daun kelapa yang kering.
Pada kakek-kakek itu Saya bertanya mengenai Pantai Bagedur yang menurutnya sangat ramai pada sore hari apalagi saat akhir pekan. Masih lanjutnya, kadang muda-mudi di sini menggunakan pantai sebagai arena balap motor. Hal itu mengingatkan Saya akan Pantai Pasir Padi di Pulau Bangka.
Obrolan kami pun meluas, Kakek itu ternyata pernah berada di Jakarta dengan rentang waktu yang cukup lama.Saat di jakarta dulu ,dirinya berprofesi sebagai supir taksi baik yang legal maupun tidak legal (taksi gelap). Ia juga bercerita dengan bangga, bahwa dirinya menikahi dengan gadis yang umurnya jauh melebihi umurnya. Saat itu umurnya 37 tahun, sedangkan sang istri saat itu baru berumur 14 tahun. Kakek itu juga memberi tahu bahwa istrinya merupakan ibu-ibu yang membuatkan pesanan kopi. Saya agak terkejut dan kagum pada kakek-kakek itu. Saya bilang padanya, "saat fase umur seperti bapak, bapak masih bisa dapat yang sangat muda." Kami pun tertawa bersama.
Topik obrolan kami semakin mundur ke belakang, ke zaman kemerdekaan. Saat itu si kakek masih kecil, Ia ingat ketika bapaknya membawa dirinya ke sebuah lapangan yang ramai akan manusia. Di mimbar, berdiri seorang pria berjubah putih lengkap dengan pecinya yang hitam. Suaranya lantang dan bertenaga membuat siapa yang mendegarnya terpaku, hening mendengarkan dengan seksama. Setiap kalimat yang dikeluarkan pria di atas mimbar itu penuh dengan sarat makna. Kata-kata yang dikeluarkannya membakar semangat bahkan kata si kakek, orang-orang yang datang pada waktu itu seakan terhipnotis dengan pidato Bung Karno. Mereka seakan satu paham dan jiwa dengan presiden Soekano.
Saya jadi ingat kutipan Bung karno bahwa "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Saya dan kakek itu berharap suatu saat nanti Indonesia dapat dipimpin orang yang visi kenegaraannya seperti Soekarno. Luas dan hidup untuk rakyat. Kakek itu merasa rindu dengan sosok Soekarno. Rindu akan pidatonya yang berapi-api.















